“Program SLV menjadi ruang kolaborasi untuk mendorong pengelolaan lanskap yang lebih berkelanjutan, khususnya di wilayah yang memiliki nilai penting bagi konservasi keanekaragaman hayati,” paparnya.
Keterlibatan YEL, lanjutnya, berlandaskan prinsip konservasi dengan menempatkan perlindungan ekosistem sebagai pertimbangan utama. “Upaya konservasi perlu berjalan seiring dengan penguatan kapasitas dan penghidupan masyarakat, sehingga masyarakat dapat meningkatkan kesejahteraan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Untuk memastikan inisiatif tersebut terus berjalan, SLV mendukung penguatan tata kelola daerah melalui Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD KSB), pendampingan Tim Pemantauan Deforestasi Daerah (TPDD), serta penguatan Forum Multipihak Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Singkil.
BACA JUGA: Petani Sawit Makin Terhimpit? POPSI Soroti Kebijakan Dua Tahun Pemerintahan Prabowo
Bupati Aceh Singkil Safriadi Oyon menekankan pentingnya menjadikan capaian Program SLV sebagai landasan untuk memperkuat pembangunan desa dan tata kelola sumber daya alam yang berkelanjutan.
“Program SLV membuktikan bahwa pemberdayaan masyarakat dan perlindungan lingkungan dapat berjalan beriringan. Ke depan, kami berkomitmen memperkuat kolaborasi lintas sektor agar manfaat program ini terus dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Seluruh pihak juga membahas strategi tindak lanjut untuk menjaga keberlanjutan inisiatif setelah periode program berakhir. Dengan fondasi kolaborasi yang telah dibangun selama lebih dari tiga tahun, SLV diharapkan menjadi model pembangunan desa berkelanjutan di Aceh Singkil. (T2)
