InfoSAWIT, JAKARTA – Persoalan tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit mulai bergeser dari sekadar isu rekrutmen menjadi tantangan strategis yang berkaitan langsung dengan produktivitas dan pendapatan perusahaan. Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam pembukaan IPS Planter Talks 2026 yang digelar Indonesian Planters Society (IPS), Sabtu (19/9/2026).
Mengusung tema “Darurat SDM Sawit: No Harvester, No Revenue”, seri perdana forum tersebut membahas bagaimana perusahaan perkebunan mendapatkan, membentuk, mempertahankan hingga membangun keterikatan tenaga pemanen.
IPS Planter Talks 2026 merupakan rangkaian National Knowledge Series yang menghadirkan delapan percakapan strategis mengenai tantangan industri perkebunan Indonesia. Program tersebut membawa tema besar “8 Years of IPS, 8 Strategic Conversations for the Future of Plantation”.
BACA JUGA: Bukan Sekadar Target Produksi, Mandor dan Asisten Jadi Wajah Manajemen di Kebun Sawit
Berbeda dari forum webinar yang berdiri sendiri, IPS merancang rangkaian tersebut sebagai sebuah perjalanan pembelajaran yang bergerak dari persoalan sumber daya manusia, produktivitas, teknologi dan mill excellence, hingga kepemimpinan, kapabilitas planter masa depan, strategi bisnis dan pengalaman kepemimpinan.
Krisis Pemanen Bukan Sekadar Persoalan Rekrutmen
Dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Senin (21/9/2026), dalam pembukaan acara, Sekretaris Jenderal IPS Ronald Marpaung mengatakan IPS Planter Talks 2026 menjadi ruang belajar bersama di tengah perubahan industri perkebunan yang semakin kompleks.
Menurutnya, pengalaman terbaik yang dimiliki para praktisi tidak semestinya berhenti di satu kebun, perusahaan atau generasi. Pengetahuan tersebut perlu dibagikan agar dapat menjadi pembelajaran bersama bagi industri.
BACA JUGA: Pekebun Sawit Malaysia Soroti Tantangan EUDR dan Ketertelusuran
Ketua Umum IPS, Jamalul juga menyoroti semakin beragamnya tantangan yang dihadapi sektor perkebunan. Persoalan tenaga kerja kini berjalan bersamaan dengan perubahan aspirasi generasi baru, kenaikan biaya operasional, tuntutan produktivitas, perkembangan kecerdasan buatan dan mekanisasi, serta tuntutan keberlanjutan, traceability, ESG dan tata kelola.
Dalam konteks tersebut, persoalan pemanen memiliki posisi penting karena keberadaan tenaga kerja di lapangan berkaitan langsung dengan proses produksi.
90 Hari Pertama Menentukan Adaptasi Pemanen
Pembahasan pada sesi “How to Find and Build Harvesters” kemudian mengarah pada fase awal ketika pekerja mulai bergabung dengan perusahaan.
BACA JUGA: Pemanen Mulai Sering Absen? Perusahaan Sawit Perlu Deteksi Dini Sebelum Terlambat
Ainol Haqi, Head of Learning & People Development Section, People & Organization Development PT Teladan Prima Agro, menjelaskan bahwa 90 hari pertama merupakan periode penting bagi pekerja baru.
Masa tersebut tidak hanya berkaitan dengan proses adaptasi, tetapi juga pembentukan kompetensi, produktivitas dan keterikatan pekerja terhadap perusahaan.
Pendampingan sejak hari pertama dan orientasi yang terstruktur menjadi bagian penting agar pemanen baru memahami pekerjaan dan lingkungan kerjanya sebelum dituntut mencapai tingkat produktivitas yang diharapkan.
BACA JUGA: Fortasbi Ungkap Tantangan Legalitas Lahan Petani Sawit untuk Masuk Rantai Pasok Berkelanjutan
Dengan pendekatan tersebut, proses membentuk pemanen tidak berhenti pada penerimaan tenaga kerja. Perusahaan perlu memastikan pekerja memperoleh dukungan yang cukup selama masa awal bekerja.
Mempertahankan Pemanen Produktif
Persoalan berikutnya muncul setelah pekerja berhasil dibentuk menjadi pemanen yang produktif. Tantangannya adalah bagaimana membuat mereka tetap bertahan.
Dalam sesi “How to Keep and Engage Harvesters”, Harry Agung Pratama, Dept. Head of HR Business Partner & Organization Development PT Pasifik Agro Sentosa, menjelaskan bahwa retensi pemanen tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat pendapatan.
BACA JUGA: Kajian PPA FEB UI: Sektor Sawit Punya Eksposur PPN Lebih Bayar di Atas Kas
Hubungan dengan atasan, kondisi keluarga, kebutuhan individual, kepastian hari kerja, ancak panen, ketersediaan buah serta dukungan operasional juga dapat memengaruhi keputusan pekerja untuk bertahan.
Transparansi perhitungan premi dan potongan turut menjadi perhatian. Pekerja perlu memahami bagaimana pendapatan mereka terbentuk sehingga hubungan kerja dapat dibangun berdasarkan pemahaman yang jelas.
Dari Find hingga Sustain Productivity
Rangkaian pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan tenaga pemanen membentuk sebuah mata rantai yang saling berhubungan.
