InfoSAWIT, BRUSSELS – Produksi kedelai Uni Eropa (UE) diperkirakan merosot sekitar 20 persen pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi 2,4 juta ton. Penurunan tersebut dipicu gelombang panas berkepanjangan, kekeringan, serta menyusutnya luas areal tanam di sebagian besar negara Eropa.
Laporan terbaru Donau Soja memperkirakan rata-rata produktivitas kedelai di kawasan UE hanya mencapai 2,24 ton per hektare. Angka tersebut sekitar 15 persen lebih rendah dibandingkan rata-rata produksi dalam lima tahun terakhir.
Italia masih menjadi produsen kedelai terbesar di UE, dengan perkiraan hasil panen sekitar 900 ribu ton. Meski memimpin produksi, angka tersebut diproyeksikan turun 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
BACA JUGA: Ekspor Lemak dan Minyak Nabati Indonesia Tembus US$29,31 Miliar hingga September 2026
Dilansir InfoSAWIT dari ukragroconsult, Sabtu (7/11/2026), penurunan lebih tajam diperkirakan terjadi di Austria. Produksi kedelai negara tersebut berpotensi merosot 36 persen menjadi 180 ribu ton.
Di tengah tren penurunan tersebut, Polandia dan Jerman justru menunjukkan perkembangan positif. Produksi kedelai Polandia diperkirakan mencapai 264 ribu ton, meningkat lebih dari 15 persen dibandingkan tahun lalu. Capaian itu berpotensi menjadikan Polandia sebagai produsen kedelai terbesar ketiga di Uni Eropa.
Sementara itu, produksi kedelai Jerman diproyeksikan tumbuh 2,4 persen menjadi 134 ribu ton. Perkembangan di kedua negara tersebut menunjukkan bahwa budidaya kedelai masih memiliki ruang untuk berkembang di kawasan Eropa, meskipun sebagian besar negara menghadapi tekanan cuaca.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 6–12 November 2026 Turun Rp0,53 per Kg
Situasi serupa juga terjadi di Ukraina, yang selama ini menjadi salah satu pemasok utama kedelai nonrekayasa genetika atau non-GM bagi pasar Eropa. Produksi kedelai Ukraina pada 2026 diperkirakan mencapai 4,4 juta ton, turun 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi cuaca yang kurang mendukung dan penurunan produksi turut memengaruhi aktivitas ekspor negara tersebut. Pada September 2026, ekspor kedelai Ukraina hanya sekitar 27 ribu ton atau sepertiga dari volume pengiriman pada bulan yang sama tahun 2025.
Menyusutnya produksi di Uni Eropa diperkirakan semakin memperbesar ketergantungan kawasan tersebut terhadap pasokan kedelai impor. Donau Soja memperkirakan tingkat swasembada kedelai UE pada tahun pemasaran 2026/2027 turun menjadi sekitar 6 persen, dibandingkan 8 persen pada periode 2025/2026.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 4–10 November 2026, Umur 10–20 Tahun Rp3.717,33 per Kg
Artinya, sebagian besar kebutuhan kedelai Uni Eropa masih harus dipenuhi melalui pasokan dari luar kawasan. Kondisi ini menjadi tantangan bagi ketahanan pasokan bahan baku untuk industri pangan dan pakan ternak di Eropa.
Manajer Umum Donau Soja, Aurélie Tournan, menilai rendahnya tingkat swasembada kedelai membuat sistem pangan Eropa rentan terhadap berbagai risiko eksternal. Karena itu, peningkatan produksi domestik perlu menjadi perhatian dalam kebijakan pertanian kawasan tersebut.
Menurut Tournan, upaya meningkatkan produksi kedelai Eropa membutuhkan dukungan kebijakan, investasi, serta penguatan rantai pasok regional. Dukungan tersebut perlu mencakup seluruh mata rantai, mulai dari petani, pengolah, hingga industri pakan dan pangan.
BACA JUGA: DSI Perkuat Tata Kelola Ekspor Sawit, RSPO Soroti Transparansi dan Akses Pasar Global
Pengembangan produksi kedelai di dalam kawasan dinilai dapat mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat daya tahan sektor pertanian Eropa menghadapi gangguan pasokan global. Di tengah penurunan produksi secara keseluruhan, pertumbuhan di Polandia dan Jerman juga memperlihatkan potensi pengembangan komoditas tersebut di pasar domestik Uni Eropa. (T2)
