InfoSAWIT, ARLINGTON – Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memproyeksikan petani di Negeri Paman Sam akan menanam sekitar 94 juta acre jagung dan 85 juta acre kedelai dalam beberapa pekan ke depan pada musim tanam musim semi 2026.
Proyeksi tersebut disampaikan seiring dimulainya agenda tahunan Ag Outlook Forum yang digelar di Arlington, Virginia. Estimasi luas tanam jagung tahun ini tercatat menurun dibandingkan realisasi 98,8 juta acre pada 2025, meskipun masih sejalan dengan perkiraan pelaku industri pupuk sebelumnya.
Dilansir InfoSAWIT dari ICIS, Kamis (26/2/2026), panen jagung diproyeksikan mencapai 15,755 miliar bushel, dengan stok akhir tahun pemasaran 2026–2027 diperkirakan berada di level 1,837 miliar bushel.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 25 Februari – 3 Maret 2026 Turun Rp. 144,82 per Kg
Penanaman Kedelai Diperkirakan Meningkat
Sebaliknya, estimasi luas tanam kedelai untuk musim ini meningkat menjadi 85 juta acre dibandingkan 81,2 juta acre pada tahun lalu. Produksi kedelai diperkirakan mencapai 4,450 miliar bushel dengan stok akhir naik menjadi 355 juta bushel.
Namun demikian, sektor pertanian menghadapi tingkat ketidakpastian yang lebih tinggi pada tahun mendatang, tidak hanya dari faktor cuaca dan arah harga komoditas, tetapi juga potensi pasokan global yang melimpah dari negara produsen utama seperti Brasil.
Selain itu, kenaikan biaya input produksi seperti pupuk turut menjadi tantangan bagi petani AS.
Potensi Konsumsi Pupuk Meningkat
Meski harga pupuk meningkat secara tahunan, potensi perluasan area tanam membuka peluang konsumsi pupuk mencapai rekor baru, mengingat petani cenderung tidak mengurangi penggunaan nutrisi karena berisiko menurunkan hasil panen.
Aplikasi pupuk pra-tanam telah dimulai di sejumlah negara bagian yang tidak terdampak kondisi cuaca ekstrem dalam beberapa waktu terakhir, dan diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa pekan ke depan seiring mendekatnya musim semi.
Selain aplikasi awal, permintaan pemupukan lanjutan pada pertengahan musim juga diproyeksikan tetap tinggi.
BACA JUGA: MPOC Proyeksikan Harga CPO Bergerak di Kisaran RM4.000–RM4.300 per Ton pada Maret 2026
Sepanjang Februari, harga kedua komoditas tersebut menunjukkan pergerakan yang fluktuatif, dengan kontrak jagung Maret ditutup melemah sementara harga kedelai Maret menguat tipis pada perdagangan Kamis. (T2)
