InfoSAWIT, BEIJING – Harga kontrak kedelai berjangka di Chicago Board of Trade (CBOT) tercatat melemah pada perdagangan Rabu, dipengaruhi ketidakpastian permintaan dari China serta tekanan pasokan dari panen kedelai yang tengah berlangsung di Brasil.
Harga kontrak kedelai paling aktif di CBOT turun sekitar 0,09% menjadi US$11,69½ per bushel pada pukul 04.00 GMT. Pelemahan ini terjadi seiring sikap hati-hati pelaku pasar terhadap prospek permintaan dari China, yang merupakan importir kedelai terbesar di dunia.
Dilansir Reuters, Minggu (8/3/3036), pelaku pasar juga mencermati potensi kembalinya permintaan dari China setelah negara tersebut dilaporkan telah memenuhi target pembelian kedelai sebesar 12 juta metrik ton yang sebelumnya dijanjikan kepada Amerika Serikat. Namun, sejumlah pedagang masih meragukan peningkatan permintaan dalam waktu dekat, mengingat harga kedelai asal AS saat ini relatif tinggi.
BACA JUGA: Minyak Sawit dalam Transisi Pangan Global: Alternatif Lemak Nabati yang Efisien dan Berkelanjutan
Di sisi lain, laporan media internasional menyebutkan bahwa negosiator perdagangan utama dari Amerika Serikat dan China dijadwalkan bertemu pada pertengahan Maret. Pertemuan ini dinilai menjadi sinyal bahwa rencana pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping masih berada di jalur yang direncanakan, meskipun terjadi ketegangan geopolitik menyusul serangan militer AS terhadap Iran.
Meski demikian, konflik di kawasan Timur Tengah sempat memberikan sentimen dukungan terhadap pasar kedelai dan biji-bijian pada beberapa sesi perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, kontrak gandum di CBOT justru mencatat kenaikan sekitar 0,35% menjadi US$5,76 per bushel, meskipun kondisi cuaca di wilayah sentra produksi gandum Amerika Serikat mulai membaik dan pasokan global masih melimpah.
BACA JUGA: HIP Biodiesel Maret 2026 Ditetapkan Rp13.980/Liter, Mengacu Harga CPO Rp14.639/Kg
Hujan yang turun di wilayah sabuk gandum AS membantu memperbaiki kondisi tanaman dan menekan harga, meskipun para analis menyebutkan kekeringan di beberapa area masih menjadi perhatian pasar.
Pada komoditas lain, kontrak jagung di CBOT naik tipis sekitar 0,06% menjadi US$4,46¾ per bushel, didukung oleh permintaan ekspor yang tetap kuat.
Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) juga mengonfirmasi adanya penjualan swasta sebesar 196.000 metrik ton jagung AS untuk pengiriman ke tujuan yang tidak diungkapkan pada tahun pemasaran 2025/2026.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalbar Periode I-Maret 2026 Naik Rp 49,97per Kg
Namun demikian, para pedagang melaporkan bahwa dana komoditas tercatat sebagai penjual bersih untuk kontrak berjangka jagung, gandum, dan kedelai di CBOT pada perdagangan Selasa, mencerminkan sikap hati-hati investor terhadap dinamika pasar komoditas global. (T2)
