InfoSAWIT, BEIJING – China dan Amerika Serikat diperkirakan akan mencapai kesepakatan baru di sektor pertanian dalam pertemuan tingkat tinggi pekan ini. Kesepakatan tersebut berpotensi memperluas pembelian produk biji-bijian dan daging asal Amerika Serikat oleh China, meski pasar tidak memperkirakan adanya lonjakan besar impor kedelai dari Negeri Paman Sam.
Sektor pertanian dinilai masih menjadi salah satu area yang relatif minim ketegangan dalam hubungan bilateral kedua negara. Namun demikian, bentuk akhir dari kesepakatan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping masih belum sepenuhnya jelas menjelang pertemuan resmi keduanya.
Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan tengah mendorong komitmen pembelian yang lebih besar dari Beijing untuk produk pertanian, termasuk kedelai.
BACA JUGA: MSCI Coret 4 Saham Perusahaan Sawit dari Small Cap Index, Ini Daftarnya
“Mereka tahu ini adalah sesuatu yang mereka butuhkan dan sesuatu yang ingin kami jual,” ujar seorang pejabat senior AS yang memberikan pengarahan kepada media terkait agenda kunjungan tersebut.
Dilansir InfoSAWIT dari Reuters, Kamis (14/5/2026) pertemuan tersebut juga akan dihadiri lebih dari selusin CEO dan eksekutif perusahaan besar Amerika Serikat, termasuk pimpinan perusahaan perdagangan biji-bijian global Cargill.
Meski demikian, para analis dan pelaku pasar menilai peluang peningkatan pembelian kedelai oleh China masih terbatas. Kondisi itu dipengaruhi lemahnya permintaan domestik serta harga kedelai Brasil yang lebih kompetitif dibanding produk asal AS.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Periode II-Mei 2026 Naik Rp18,41 per Kg
Pasar justru melihat potensi kesepakatan baru lebih besar terjadi pada komoditas jagung, sorgum, gandum giling, daging sapi, dan unggas, yang sebelumnya sempat dibahas dalam pertemuan tingkat tinggi pada Maret lalu.
“Masih ada ruang untuk kesepakatan pembelian produk ekspor utama AS lainnya. Bentuknya bisa berupa kontrak pembelian volume untuk produk seperti jagung dan sorgum,” ungkap Direktur Konsultan Trivium China, Even Rogers Pay, dalam analisanya.
Pada 2024, sebelum Donald Trump kembali menjabat presiden, China tercatat membeli produk jagung, sorgum, dan gandum AS senilai sekitar US$4,5 miliar atau setara RM17,7 miliar. Nilai tersebut masih jauh di bawah impor kedelai AS yang mencapai sekitar US$12 miliar.
BACA JUGA: Pekebun Bersertifikat ISPO Diprioritaskan Terima Bantuan BPDP
Dalam beberapa tahun terakhir, China juga terus mengurangi ketergantungannya terhadap produk pertanian Amerika Serikat, terutama kedelai. Jika pada 2016 sekitar 41% impor kedelai China berasal dari AS, maka pada 2024 porsinya turun menjadi sekitar 20%.
Bahkan pada tahun lalu, pembelian kedelai China dari AS hanya menyumbang sekitar 15% dari total impor negeri tersebut.
Pasar kini menunggu kejelasan mengenai implementasi komitmen pembelian 25 juta ton kedelai AS per tahun hingga 2028 yang disepakati tahun lalu. Jika terealisasi, angka tersebut akan menjadi volume tertinggi sejak 2022.
