InfoSAWIT, JAKARTA – Bumitama bergerak melacak asal-usul tandan buah segar sawit hingga ke petakan kebun petani—sebuah langkah konkret yang menjadi komitmen perusahaan.
Di industri sawit, persoalan terbesar sering kali bukan terletak pada apa yang diproduksi, melainkan dari mana ia berasal. Ketika tuntutan pasar global mengarah pada traceability total—hingga ke batas petakan kebun petani—rantai pasok yang selama ini kabur mulai dipaksa menjadi terang.
Di situlah Bumitama Agri Ltd (Bumitama) memilih melangkah lebih jauh, menelusuri jejak tandan buah segar hingga ke petak kebun terakhir. Sebuah langkah teknis yang secara implisit mengandung perubahan mendasar dalam tata kelola sawit nasional.
Ada satu paradoks besar dalam industri kelapa sawit, komoditas ini menjadi salah satu bahan baku paling strategis di dunia, namun asal-usulnya kerap bergerak dalam kabut panjang rantai distribusi. Buah dipanen di kebun petani, berpindah ke tangan pengepul, lalu ke pengumpul yang lebih besar, sebelum akhirnya masuk ke pabrik kelapa sawit (PKS). Dalam setiap lapis perpindahan itu, jejak asal produk kerap memudar.
Masalahnya, pasar kini tak lagi mentoleransi kabut itu. Meski Bumitama tidak melakukan ekspor, regulasi seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR) menuntut kejelasan geografis, bukan sekadar nama desa, bukan hanya titik koordinat, melainkan batas petakan lahan—garis tegas yang menunjukkan persis dari mana buah berasal. Dalam bahasa sederhana: dunia ingin tahu, tandan buah segar itu tumbuh di kebun mana, di lahan legal seperti apa, dan apakah kebun itu berdiri di atas bentang alam yang bebas dari deforestasi.
Dalam konteks inilah langkah Bumitama menjadi relevan. Menurut Agam Fatchurrochman, Deputy Head of Sustainability & Certification Bumitama, hingga Desember 2025 perusahaan telah memetakan traceability pada hampir seluruh rantai pasok. Pencapaian ini terbilang signifikan karena diterapkan pada distribusi produk berskala besar yang seluruhnya ditujukan untuk kebutuhan pasar dalam negeri, dengan nilai penjualan sebesar Rp 19,95 triliun. Angka ini bukan sekadar statistik korporasi. Yang membuatnya penting adalah cakupannya, pelacakan telah dilakukan hingga batas petakan lahan petani pemasok yang terhubung langsung melalui pemegang SPK dalam transaksi jual beli TBS.
BACA JUGA: Disbun Riau Terbitkan Edaran, Larang PKS Turunkan Harga TBS Sawit Secara Sepihak
Capaian itu menjadi penting mengingat rantai pasok Bumitama bertumpu pada ekosistem perkebunan yang luas dan beragam. Dengan total area pengelolaan seluas 184.000 hektar, sekitar 66% merupakan kebun inti dan 34% kebun plasma. Pada 2025, Bumitama menghasilkan 1,25 juta ton CPO dengan memproses 3,65 juta ton TBS, diantaranya sebesar 39% dari kebun inti, 21% dari kebun plasma, dan 39% lainnya dari petani swadaya di sekitar wilayah operasional (pemasok eksternal). Segmen pemasok eksternal ini yang justru paling kompleks untuk dipetakan. Selama ini, banyak perusahaan pada umumnya cukup mengetahui titik koordinat pemasok, atau paling jauh nama desa asal buah. Itu memberi gambaran kasar, tetapi tidak cukup presisi untuk memenuhi standar keberlanjutan generasi baru.
Sejak akhir 2024, pendekatannya berubah total. Bumitama mulai bekerja sama langsung dengan pemasok untuk memetakan polygon persil kebun petani. Di sinilah transformasi terjadi, rantai pasok tak lagi dibaca sebagai jalur perdagangan, tetapi sebagai lanskap geografis yang bisa diverifikasi.
Konsekuensinya besar. Dengan data petakan, pemantauan deforestasi tak lagi menggunakan pendekatan radius 50–70 kilometer dari PKS—metode lama yang cenderung menyapu rata area luas dengan akurasi terbatas.
BACA JUGA: Wisuda INSTIPER ke-86 Cetak 292 Lulusan, Seperempat Langsung Terserap Dunia Kerja
“Kini, pengawasan dilakukan secara lebih presisi, berbasis bentuk aktual lahan pemasok. Pemantauan berkala tiap kuartal menjadi lebih tajam, titik risiko bisa diidentifikasi lebih cepat, potensi pelanggaran lebih mudah dimitigasi, dan sumber TBS yang clear & clean dapat dipetakan dengan keyakinan yang lebih tinggi,” ungkap Agam kepada InfoSAWIT, belum lama ini.
Tetapi teknologi, sebagaimana lazimnya, hanya menyelesaikan separuh persoalan. Lantaran separuh lainnya adalah manusia.
Di lapangan, proses pengumpulan data justru berhadapan dengan lapisan sosial yang jauh lebih rumit daripada citra satelit. Ada keragaman budaya, perbedaan tingkat pendidikan, serta kegelisahan yang nyata terhadap keterbukaan data.
