Pengepul khawatir dipotong mata rantainya—bahwa perusahaan akan bertransaksi langsung dengan petani. Sebagian petani mencemaskan hal yang lebih mendasar, apakah data lahan mereka aman, dan apakah keterbukaan informasi itu suatu hari justru menjadi pintu masuk akuisisi lahan secara besar-besaran.
Kecurigaan semacam ini tidak muncul begitu saja. Melainkan hadir dari pengalaman panjang relasi yang kerap timpang antara korporasi dan komunitas lokal.
Karena itu, kata Agam, pekerjaan sesungguhnya bukan semata memetakan kebun, melainkan membangun kepercayaan. Sosialisasi intensif, komunikasi yang terbuka, dan pendekatan partisipatif menjadi fondasi agar seluruh pihak merasa menjadi bagian dari sistem, bukan objek dari sistem.
BACA JUGA: Dugaan Manipulasi Harga CPO Lewat Singapura, Menkeu: Tutup Kebocoran via DSI
Teknologi kemudian hadir sebagai alat penguat legitimasi data. GPS dan aplikasi survei digunakan untuk mengambil koordinat langsung di lapangan. Data itu diverifikasi ulang melalui citra satelit, peta dasar, analisis GIS, hingga pengecekan akhir.
“Validasi juga dilakukan lewat foto geotagging dan identifikasi anomali—mulai dari titik duplikat, lokasi di luar desa, hingga area yang secara spasial tak masuk akal. Namun bahkan sistem secanggih itu tetap membutuhkan satu hal klasik, verifikasi lapangan dan quality control,” ungkap Agam.
Oleh karena itu, pendekatan keberlanjutan tak bisa berhenti pada tuntutan kepatuhan. Melainkan harus menjelma menjadi pendampingan menuju kepatuhan.
BACA JUGA: SPKS: Harga TBS Sawit Turun di Sejumlah Daerah, Pemerintah Diminta Respons Cepat
Bumitama tampaknya membaca arah itu. Selain memperkuat sosialisasi kebijakan keberlanjutan, perusahaan tengah menyiapkan online self-assessment tools bagi pemasok. Melalui sistem ini, pemasok dapat menilai sendiri tingkat pemenuhan mereka terhadap berbagai indikator keberlanjutan, melihat skor dan persentase capaian, lalu bersama perusahaan menyusun langkah perbaikan yang lebih terarah.
Pendekatan ini penting karena menggeser relasi dari sekadar audit menuju pembinaan. Target akhirnya pun jelas, mendekati 100% traceable pada 2027.
Tetapi sesungguhnya, yang sedang dibangun bukan hanya sistem pelacakan. Yang sedang dibangun adalah kontrak baru dalam industri sawit, bahwa keberlanjutan bukan lagi urusan hilir, bukan sekadar sertifikasi, melainkan kerja hulu—dimulai dari mengenali petani, memahami kebunnya, memetakan lahannya, dan memastikan setiap tandan buah segar sawit memiliki asal-usul yang dapat dipertanggungjawabkan.
BACA JUGA: FORTASBI Warning Tata Kelola Ekspor Baru: Petani Sawit Jangan Jadi Korban Sentralisasi
Di era baru perdagangan global, rupanya bukan hanya kualitas minyak sawit yang diuji. Melainkan pula mengenai kejujuran jejak produknya. (T2)
