InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) diproyeksikan akan bergerak konsolidatif pada kisaran RM4.000 hingga RM4.300 per ton sepanjang Maret 2026, didukung oleh pengetatan pasokan jangka pendek, peningkatan permintaan dari India serta harga minyak kedelai Amerika Serikat yang tetap kuat.
Dalam pernyataan resminya, dilansir InfoSAWIT dari Bernama, Rabu (25/2/2026), Malaysian Palm Oil Council (MPOC) menyebutkan bahwa meskipun terdapat sejumlah faktor pendukung, ketersediaan pasokan kedelai global yang melimpah serta meningkatnya ekspor minyak kedelai dari China berpotensi membatasi penguatan harga CPO.
MPOC mengungkapkan bahwa China untuk pertama kalinya menjadi eksportir bersih minyak kedelai pada 2025 dan diperkirakan akan mempertahankan posisi tersebut pada 2026 dengan proyeksi ekspor mencapai sekitar 850.000 ton.
BACA JUGA: Petani Sawit Bersertifikat Salurkan Bantuan Pendidikan bagi Korban Banjir di Aceh Tamiang
India tercatat menyerap hampir separuh dari total ekspor minyak kedelai China sepanjang tahun lalu.
Fundamental Sawit Diperkirakan Membaik
Lebih lanjut MPOC menilai fundamental pasar minyak sawit akan mengalami perbaikan secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan.
Penguatan ekspor Malaysia pada kuartal pertama serta percepatan pengiriman dari Indonesia menjelang kenaikan pungutan ekspor pada Maret diperkirakan akan menekan tingkat persediaan minyak sawit di kedua negara produsen utama tersebut.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Menurun Pada Senin (23/2), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Lesu
Produksi minyak sawit Malaysia pada Januari 2026 tercatat turun secara musiman menjadi 1,58 juta ton atau melemah 13,8% secara bulanan.
Sebaliknya, ekspor justru meningkat menjadi 1,48 juta ton atau naik 11,4% dibandingkan Desember 2025, sekaligus menjadi volume ekspor bulanan tertinggi kedua dalam 12 bulan terakhir.
Peningkatan ekspor tersebut terutama didorong oleh lonjakan permintaan dari India dan Mesir, di mana pengapalan ke India mencapai level tertinggi dalam 15 bulan terakhir, sementara ekspor ke Mesir mencatatkan posisi tertinggi dalam 13 bulan terakhir.
Dari sisi permintaan, India diperkirakan akan kembali meningkatkan konsumsi minyak sawit seiring membaiknya daya saing harga sejak akhir 2025.
Konsumsi minyak sawit di India diproyeksikan meningkat hingga 800.000 ton sepanjang 2026, sementara konsumsi minyak kedelai dan minyak bunga matahari diperkirakan turun secara gabungan sebesar 400.000 ton.
Data Januari 2026 menunjukkan tren tersebut mulai terlihat, dengan impor minyak sawit India meningkat ke level tertinggi dalam empat bulan terakhir, sedangkan impor minyak kedelai turun ke posisi terendah dalam 11 bulan terakhir. (T2)
