InfoSAWIT, SINGAPURA – Harga kontrak berjangka kedelai di Chicago pada Jumat tercatat relatif stabil, mempertahankan penguatan yang telah mendorong harga ke level tertinggi dalam tiga bulan terakhir di tengah ekspektasi peningkatan pembelian oleh China terhadap kargo asal Amerika Serikat.
Menurut Reuters, sebagaimana dipublikasikan secara daring oleh InfoSAWIT, Selasa (24/2/2206), kontrak kedelai paling aktif di Chicago Board of Trade (CBOT) turun tipis seperempat sen menjadi US$11,55-3/4 per bushel pada pukul 02.41 GMT. Sementara itu, gandum naik seperempat sen menjadi US$5,67 per bushel dan jagung menguat 0,1% menjadi US$4,26-1/4 per bushel.
Seorang pedagang minyak nabati di Singapura menyebutkan pasar saat ini mengantisipasi peningkatan pembelian kedelai AS oleh China, di tengah kuatnya aktivitas pengolahan (crush) kedelai domestik di Amerika Serikat yang menjadi faktor penopang harga.
BACA JUGA: HIP BBN Biodiesel Februari 2026 Ditetapkan Rp13.856 per Liter, Konversi CPO US$85/MT
Namun demikian, prospek penanaman di AS serta pasokan dari Amerika Selatan diperkirakan masih akan memberikan tekanan terhadap kenaikan harga dalam jangka menengah.
Secara mingguan, harga kedelai tercatat naik sekitar 2%, menandai penguatan selama tiga pekan berturut-turut. Sebaliknya, harga jagung melemah sekitar 1%—penurunan mingguan terbesar dalam lebih dari satu bulan—sementara gandum naik lebih dari 3% untuk pekan kedua berturut-turut.
Pasar juga menunggu langkah China yang diperkirakan akan kembali melakukan pembelian kedelai AS usai libur Tahun Baru Imlek pekan depan. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada awal bulan ini menyatakan bahwa China tengah mempertimbangkan tambahan pembelian hingga 8 juta metrik ton.
Di sisi lain, Departemen Pertanian AS (USDA) memperkirakan petani AS akan menanam lebih banyak kedelai dan lebih sedikit jagung pada 2026 dibandingkan tahun lalu, meskipun produksi keduanya diproyeksikan tetap menjadi yang terbesar kedua dalam sejarah.
USDA memproyeksikan luas tanam jagung tahun ini mencapai 94 juta acre, turun dari rekor 98,8 juta acre pada 2025. Sebaliknya, luas tanam kedelai diperkirakan meningkat menjadi 85 juta acre dari sebelumnya 81,2 juta acre.
Sementara itu, International Grains Council memperkirakan pasokan gandum global berpotensi mengetat pada musim 2026/2027, seiring dengan kemungkinan penurunan produksi jagung dunia. (T2)
