Kabupaten Anggota LTKL Serukan Kolaborasi Dalam Proses Mitigasi Bencana

oleh -456 Dilihat
infosawit
Dok. Istimewa

InfoSAWIT, DEPOK – Bencana alam di Indonesia terjadi bukan hanya akibat perubahan iklim tapi juga aktivitas ekonomi konvensional yang masih mengabaikan kelestarian lingkungan. Padahal, dampak bencana alam, khususnya kebakaran hutan menyebabkan kerugian hingga Rp 269 juta per hektar.

Sebagai upaya pencegahan, 9 kabupaten anggota Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) berkomitmen melakukan mitigasi bencana yang lebih holistik berbasis konservasi ekosistem dan tata ruang. Pemerintah daerah, swasta, akademisi, sipil, kaum muda dapat terlibat dalam upaya mitigasi bencana berbasis konservasi ekosistem dan tata ruang. Kolaborasi multipihak ini dapat melahirkan penanganan kebencanaan yang lebih berkelanjutan untuk memastikan kesejahteraan masyarakat. Penanganan kebencanaan yang efektif perlu menyesuaikan dengan fungsi ekologis daerah dan memperhitungkan basis kearifan lokal.

Kepala Sekretariat LTKL, Gita Syahrani mengatakan, pencegahan untuk mengurangi kerugian dari bencana tidak dapat dipikirkan sendiri. “Kita butuh menerapkan prinsip gotong royong yang bukan hanya di atas kertas, tapi juga melihat tujuan bersama, pembagian peran yang adil, dan fungsi perangkai gotong royong,” ujar Gita, dalam Konferensi Nasional Jurnalis Lingkungan Hidup yang berlangsung di Depok, Jawa Barat, Jumat (20/01/2023).

BACA JUGA: Beri Dampak Positif Bagi Lingkungan, Perusahan Sawit BGA Tanam 50 ribu Pohon di Kalimantan dan Riau

Beberapa upaya dilakukan anggota LTKL salah satunya oleh Kabupaten Sigi yang memiliki visi Sigi Hijau. Kabupaten Sigi berkomitmen melanjutkan pembangunan berkelanjutan berbasis mitigasi bencana. Sigi mengupayakan strategi mitigasi di antaranya, pertama melakukan penataan ruang sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten dengan menata lahan penduduk serta perizinan lokasi sesuai RTRW Kabupaten.

Kedua, melakukan reformasi lahan kritis melalui penanaman bambu baik dalam kawasan hutan melalui perhutanan sosial maupun di luar kawasan hutan dengan memanfaatkan bambu untuk energi terbarukan biomassa, untuk UKM, serta untuk mewujudkan landmark arsitektural; ketiga, meningkatkan kesiapsiagaan tanggap bencana, membina dan membentuk kelompok masyarakat terhadap peduli bencana.

Perda Sigi Hijau terbentuk sesaat setelah likuifaksi terjadi pada 2018 dan menjadi payung besar pembangunan Kabupaten Sigi. Dengan begitu, pembangunan daerah Sigi menjadi lebih ramah sosial dan ramah lingkungan.

BACA JUGA: PT PAL Bersama Masyarakat Kampung Guiss Gotong Royong Bersihkan Lingkungan

Selaku perwakilan dari Kabupaten Sigi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sigi, Mohamad Afit Lamakarate mengungkapkan, jauh sebelum kabupaten Sigi terbentuk, masyarakat sudah paham dengan kondisi lingkungannya, bahkan ditetapkan memiliki kawasan konservasi hutan lindung yang luas.

“Pilihan menjadi kabupaten lestari dan kabupaten hijau, karena kondisi alam kita dilewat sesar Palu-Koro dan memiliki kawasan konservasi, tapi di satu sisi kami ingin masyarakat juga secara ekonomi bisa menyekolahkan anaknya dan makan dengan baik dan berkelanjutan dengan mengusung ekonomi kerakyatan,” katanya.

Afit menambahkan, Sigi memperkuat tata ruang untuk memetakan potensi-potensi kegempaan, rawan bencana. Selain itu, Sigi juga mendorong kebijakan yang dapat memitigasi bencana dan mendorong masyarakat agar memiliki kemampuan dan lebih mandiri untuk mengembangkan ekonominya.

BACA JUGA: Lilin Malam Dari Sawit Untuk Batik Ramah Lingkungan

Perda ini juga diperkuat dengan pembentukan forum multipihak sebagai wadah untuk mendorong penguatan koordinasi, integrasi, sinkronisasi, sinergitas, dan kerjasama di antara pemangku kepentingan di Sigi, salah satunya dengan melibatkan Yayasan Kompas Peduli Hutan (KOMIU) dan Jejak.in. (T2)


Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dari infosawit.com. Mari bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.