InfoSAWIT, SERUYAN – Lantaran tuntutan masyarakat untuk kemitran plasma terhadap PT Bangun Jaya Alam Permai (BJAP) anak usaha Best Agro Group yang berlokasi di Kecamatan Seruyan Tengah, Kabupaten Seruyan tidak kunjung terealisasi, membuat masyarakat sekitar operasi perkebunan kelapa sawit tersebut menggeruduk perusahaan.
Pada Kamis (6/7/2023) sekitar ratusan warga melakukan aksi demo di areal perkebun kelapa sawit milik perusahaan. Dari video amatir yang dilihat InfoSAWIT, aksi masyarakat tersebut sebelumnya damai dan berjalan baik, namun akhirnya berujung anarkis.
Serta terjadi bentrokan dengan pihak kepolisian yang mengamankan kegiatan tersebut, bahkan nampak sejumlah warga membawa senjata tajam. Tak sampai disitu, belasan mobil milik perusahaan menjadi target perusakan warga, termasuk kendaraan milik aparat yang ikut pula dirusak oleh warga.
BACA JUGA: Peroleh Dana BPDPKS Periode Jan-Juni 2023 Capai Rp 15,44 Triliun
Dilansir Tabengan.com, diduga dalam kejadian tersebut, mobil dinas Kapolres Seruyan juga ikut jadi sasaran warga, selain kendaraan milik kantor PT BJAP juga mengalami kerusakan di bagian luar dan dalam. Belum diketahui penyebab bentrok tersebut, namun diduga kericuhan berawal akibat salah paham antara warga dan aparat di lapangan.
Sementara menurut sumber yang tak mau disebutkan namanya, aksi masa itu merupakan akumulasi dari masyarakat sekitar yang tak kunjung memperoleh lahan kemitraan plasma, lantaran semenjak perusahaan berdiri hingga saat ini 3 kebun sawit yang dimiliki perusahaan yakni PT BJAP 1, PT BJAP 2 dan PT BJAP 3, tak satupun melakukan kemitraan.
Padahal, rata-rata masyarakat desa sekitar PT BJAP terdapat golongan keluarga miskin dan miskin ekstrem. Ungkap sumber InfoSAWIT, saat ia bertugas melakukan sensus diwilayah tersebut, banyak keluarga yang terkena busung lapar lantaran saking susahnya hidup disana.
BACA JUGA: Sosialisasi Siperibun, Sekda Provinsi Kalteng Sebut Kebun Sawit Butuh Aturan yang Tegas
Untungnya saat Soegianto Sabran menjadi Gubernur, listrik akhirnya mulai masuk, Jalan-jalan sudah mulai diperlebar dan bahkan di aspal walaupun kurang dari 5 km. “Tapi sangat meringankan beban rakyat pedalaman di Kalimantan,” katanya.
Diakui bila hanya mengandalkan pemerintah untuk sejehtarakan masyarakat akan butuh waktu, sebab itu perlu didukung perusahaan untuk turut menjalankan kewajiban ikut mensejahterakan masyarakat sekitar.
“Masyarakat disana sangat jarang yang bisa kuliah. SMA saja di beberapa desa tidak ada. Apalagi mau kuliah. Belum lagi ada larangan bagi warga untuk bakar hutan guna tanam padi. Mereka hidup dengan alam. Bakar hutan tanam padi setahun sekali. Sekarang dipidana, sawit gak punya, plasma apalagi,” tandas dia. (T2)



















