InfoSAWIT, SINGAPURA – Harga kontrak minyak sawit berjangka di Bursa Malaysia turun untuk sesi kedua berturut-turut pada Selasa, (31/10/2023), menyusul adanya penurunan ekspor dan kekhawatiran atas permintaan.
Dilansir Reuters, harga kontrak acuan minyak sawit berkode FCPOc3 untuk pengiriman April 2024 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun RM 63 atau terdapat penurunan sekitar 1,7%, menjadi RM 3,674 (US$ 772,34) per metrik ton pada perdagangan pagi.
Harga kontrak tersebut telah mencatat kerugian sebesar 2,4% sepanjang bulan ini, menuju kerugian bulanan kedua berturut-turut.
BACA JUGA: DSNG Bukukan Pendapatan Rp 6,6 Triliun Selama Kuartal III 2023
Dalam laporan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPK), mencatat total ekspor Agustus 2023 mencapai 2,073 juta ton atau turun sebesar 41% dibandingkan ekspor pada bulan Juli 2023 sebesar 3,519 juta ton. Penurunan ekspor ini lebih disebabkan oleh rendahnya produksi dan penyerapan dalam negeri yang tetap naik secara konsisten.
Lantas, aktivitas manufaktur Tiongkok secara tak terduga kembali mengalami kontraksi pada bulan Oktober, menurut survei pabrik resmi pada Selasa.
Masih dilansir Reuters, harga Kontrak minyak kedelai di Bursa Dalian berkoce DBYcv1 tercatat turun 1,5%, sedangkan kontrak minyak sawit berkode DCPcv1 turun 2,9%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade BOcv1 turun 0,2%.
BACA JUGA:
Panen kedelai AS terus mengalami kemajuan melebihi rata-rata panen meskipun terjadi hujan pada minggu lalu. Para petani telah memanen 85% tanaman kedelai mereka pada hari Minggu, sesuai dengan perkiraan rata-rata analis dan melampaui rata-rata lima tahun sebesar 78%. Laju panen yang cepat kemungkinan akan meningkatkan pasokan biji minyak dan produk-produknya, termasuk minyak kedelai.
Minyak kelapa sawit dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak nabati lainnya mereka bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar minyak nabati global. (T2)
