Mandatori Biodiesel Hemat Devisa Rp 122 triliun Serta Jadi Pilar Penting Menuju Net Zero Emisi

oleh -4.208 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM RI, Jisman P. Hutajulu saat membuka seminar.

InfoSAWIT, JAKARTA –  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia telah menegaskan peran krusial bioenergi sebagai salah satu Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam upaya mencapai target pengurangan emisi karbon menjadi nol (net zero emission) pada tahun 2060. Dalam kontribusi sektor EBT terhadap bauran energi nasional, bioenergi telah berhasil mencapai 7,7 persen atau 60 persen dari total bauran energi, menurut data yang diungkapkan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM RI, Jisman P. Hutajulu.

Pernyataan ini disampaikan dalam pembukaan Seminar Tantangan Industri Bioenergi yang diselenggarakan oleh Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) di Jakarta pada Selasa, 27 Februari 2024.

Jisman juga mengapresiasi upaya APROBI dalam menghadapi tantangan dan peluang di sektor bioenergi serta menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha untuk memajukan industri ini.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 28 Februari – 5 Maret 2024 Naik Rp 51,94/kg, Cek Harganya..

Salah satu bukti nyata keberhasilan program biodiesel adalah penghematan devisa negara sebesar lebih dari Rp 122 triliun pada tahun 2023. “Pada tahun 2023, biodiesel sebanyak 12,3 juta kilo liter telah disalurkan untuk kebutuhan domestik, menghasilkan penghematan devisa negara sekitar lebih dari Rp122 triliun, dan menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 132 juta ton CO2,” jelas Jisman dalam keterangannya kepada InfoSAWIT ditulis Rabu (28/2/2024).

Indonesia memiliki komitmen utama terhadap mitigasi perubahan iklim dengan dua target yang harus dicapai, yaitu mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada tahun 2030 dan target penurunan sebesar 41 persen pada tahun yang sama dengan bantuan internasional. Bioenergi dipandang sebagai salah satu sumber EBT yang memainkan peran kunci dalam mencapai target-target ini.

Sementara Wakil Ketua Umum APROBI, Catra de Thouars, menyoroti bahwa masih ada kesadaran yang kurang di kalangan masyarakat terkait keberadaan sektor bioenergi, meskipun industri biodiesel sawit di Indonesia telah menjadi salah satu yang paling maju di dunia selama dua dekade terakhir.

BACA JUGA: SPKS Dukung Peningkatan Dana PSR Jadi Rp 60 Juta Per Ha, Serta Diikuti Kemudahan Akses

“Dari tidak adanya mandatori sama sekali hingga kini kita memiliki mandatori pencampuran biodiesel untuk sektor PSO B35, implementasi mandatori B35 di seluruh sektor menjadi yang paling maju di dunia,” ungkap Catra.

Dalam seminar yang diadakan, topik-topik seperti Perkembangan EUDR, Implementasi ISPO Hilir, dan Program Bioenergi telah dibahas secara mendalam, menunjukkan keseriusan dalam mempercepat penerapan bioenergi sebagai salah satu solusi utama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Bioenergi, yang terdiri dari berbagai sumber seperti biomassa, biogas, dan bahan bakar nabati, memiliki potensi besar untuk menggantikan energi fosil di berbagai sektor, termasuk pembangkit listrik, industri, transportasi, komersial, dan rumah tangga. (T2)

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com