Harga Minyak Sawit Global Melonjak, Pakistan Tingkatkan Impor RBDPO dan Minyak Kedelai

oleh -6.828 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/ Abdul Rasheed Janmohammed, CEO Westbury Group sekaligus Ketua Pakistan Edible Oil Refiners Association (PEORA).

InfoSAWIT, JAKARTA –  Abdul Rasheed JanMohammad, CEO Westbury Group sekaligus Ketua Pakistan Edible Oil Refiners Association (PEORA), menyatakan bahwa Pakistan telah mengamankan impor minyak sawit olahan (RBDPO) dan olein dalam jumlah besar untuk kuartal terakhir tahun 2024. Pembelian ini dilakukan karena harga bulan mendatang lebih murah dibandingkan harga pasar spot di bulan Agustus dan September. Selain itu, Pakistan juga mengimpor sekitar 150.000 ton minyak kedelai untuk periode Oktober-Desember 2024.

Dalam beberapa bulan terakhir, pasar minyak nabati, khususnya minyak sawit, mengalami kenaikan harga yang signifikan. Penyebab utama lonjakan ini adalah posisi beli panjang yang diambil oleh dana investasi, ketatnya pasokan minyak sawit mentah (CPO) di Indonesia, serta rencana pemerintah Indonesia untuk meningkatkan campuran biodiesel berbasis sawit dari B35 menjadi B40. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan bahwa peningkatan campuran ini dapat meningkatkan konsumsi minyak sawit hingga 2 juta ton per tahun.

Namun, keputusan peningkatan campuran biodiesel ini menuai perdebatan. “Apakah perlu meningkatkan campuran ke B40 saat harga minyak sawit sedang tinggi dan harga minyak mentah global melemah?” ujar JanMohammad dalam pemaparannya pada Konferensi minyak sawit, dikuitp InfoSAWIT, Senin (11/11/2024).

BACA JUGA: Disbun Kalimantan Tengah Gelar Sosialisasi Pendataan Perkebunan Sawit Rakyat di Murung Raya

Selain itu, kenaikan harga lokal minyak sawit menjelang bulan suci Ramadhan menambah keraguan, dengan munculnya wacana tentang Domestic Market Obligation (DMO) untuk mengutamakan kebutuhan pangan daripada bahan bakar.

Musim perayaan yang berdekatan, seperti Tahun Baru Imlek, Ramadhan, dan Idul Fitri, juga diperkirakan akan meningkatkan permintaan minyak sawit, bertepatan dengan musim produksi rendah yang biasanya terjadi antara November hingga Maret 2025. Cuaca buruk yang diantisipasi di Malaysia dan Indonesia akibat musim hujan yang intens dapat memperketat pasokan lebih lanjut.

Sementara itu, harga minyak bunga matahari dan rapeseed yang sebelumnya lebih rendah dari minyak kedelai kini berbalik menjadi lebih mahal, dipicu oleh kondisi panen yang buruk. Pasar minyak kedelai juga tetap kuat akibat permintaan tinggi dan kendala logistik. Mulai Desember 2024, Pakistan akan mulai mengimpor kedelai hasil rekayasa genetika (GMO) setelah persetujuan baru-baru ini, yang diharapkan menurunkan harga dan memperbaiki rantai pasokan minyak nabati di negara tersebut.

BACA JUGA: Pemerintah Siap Dorong Transisi Energi dan Efisiensi Energi untuk Kurangi Emisi

Pada konferensi minyak sawit tersebut, JanMohammad memperkirakan harga minyak sawit di Bursa Malaysia (MDEX) akan tetap berada di kisaran RM 4.500 hingga RM 5.000 hingga Maret 2025, dengan harga diprediksi stabil pada kuartal kedua akibat rendahnya stok. Sementara itu, pada paruh kedua 2025, harga diperkirakan akan mengalami koreksi yang lebih signifikan seiring stabilnya pasokan. (T2)

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com