Melepas Harapan di Hutan Kehje Sewen: Enam Orangutan Kembali ke Alam Liar

oleh -2.757 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Yayasan BOS/Tanggal 23 April 2025 menjadi penanda momen bersejarah bagi upaya pelestarian orangutan Indonesia. Enam individu orangutan—lima di antaranya dilepasliarkan dan satu lainnya direintroduksi setelah rehabilitasi—kembali ke habitat alami mereka.

InfoSAWIT, KUTAI TIMUR — Pagi itu, matahari baru saja menyingkap lembut rimba Kalimantan saat suara pintu kandang besi terbuka pelan di jantung Hutan Kehje Sewen. Seekor orangutan betina bernama Mori melangkah keluar. Ia berhenti sejenak, mencium udara, lalu perlahan memanjat pohon terdekat. Di belakangnya, Bugis mengikuti, matanya menelusuri dahan dan ranting seolah tengah membaca kembali naskah lama tentang rumah yang pernah ia kenal.

Tanggal 23 April 2025 menjadi penanda momen bersejarah bagi upaya pelestarian orangutan Indonesia. Enam individu orangutan—lima di antaranya dilepasliarkan dan satu lainnya direintroduksi setelah rehabilitasi—kembali ke habitat alami mereka. Pelepasliaran ini dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Balai KSDA Kalimantan Timur, dan Yayasan BOS, dengan dukungan Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), di kawasan kerja PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (PT RHOI), Kabupaten Kutai Timur.

Namun kisah ini bukan sekadar tentang pelepasan satwa. Ini adalah kisah perjalanan penuh harapan, dedikasi, dan kerja sama lintas lembaga demi kelangsungan hidup salah satu spesies paling ikonik di bumi.

BACA JUGA: Didukung Packard Foundation, FORTASBI Mantapkan Langkah Menuju Organisasi yang Tangguh dan Transparan

 

Dari Samboja Lestari Menuju Hutan

Perjalanan dimulai sehari sebelumnya, 22 April 2025. Di Pusat Rehabilitasi Samboja Lestari, tim medis bekerja penuh ketelitian. Keenam orangutan disedasi dengan hati-hati, lalu dipindahkan satu per satu ke dalam kandang transportasi. Kesejahteraan satwa menjadi prioritas, karena mereka akan menempuh perjalanan darat panjang menuju hutan tujuan.

Dikutip keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Selasa (13/5/2025), Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, secara simbolis melepas tim pelepasliaran pada sore hari itu. Rombongan lalu memulai perjalanan selama 12 jam menuju Muara Wahau. Setiap dua jam, tim berhenti untuk memeriksa kondisi satwa, memberi buah segar dan air, memastikan kenyamanan mereka.

Tiba dini hari, tim beristirahat sejenak sebelum melanjutkan ke dermaga sungai. Di sini, kandang dilengkapi pelampung, dan kelotok membawa mereka menyeberangi sungai menuju titik pelepasliaran di hutan—proses yang berlangsung cepat, hanya lima menit, namun tetap menegangkan.

BACA JUGA: Permintaan Minyak Sawit India Melonjak di April, Didorong Harga Murah dan Margin Impor Positif

Di tengah rimba, satu per satu pintu kandang dibuka. Mori menjadi yang pertama. Ia pernah dilepasliarkan pada 2019, namun harus kembali ke pusat rehabilitasi karena sakit melioidosis. Kini, sembuh dan kuat, Mori kembali ke alam. Tak lama kemudian, Bugis menyusul—keduanya bahkan terlihat kawin, sinyal bahwa adaptasi mereka berjalan baik.

Mikhayla, yang kisahnya menyentuh hati banyak orang, juga dilepas. Ia ditemukan di area tambang dalam kondisi kurus dan lemah. Menteri Raja Juli Antoni sendiri yang membuka kandangnya. Begitu pintu terbuka, Mikhayla meloncat gesit dan langsung memanjat pohon.

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com