Energi yang Tertahan di Kebun Sawit

oleh -380 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/Memet Hakim / Dosen Luar Biasa Universitas Padjadjaran, Pengamat Perkebunan.

InfoSAWIT, BANDUNG – Indonesia kerap bicara besar soal ketahanan energi. Biodiesel diperluas, bauran energi diperkuat, impor bahan bakar ditekan, dan sawit kembali disebut-sebut sebagai tumpuan strategis. Namun di tengah gegap gempita itu, ada satu ironi yang nyaris luput dari perhatian: Indonesia sesungguhnya belum kekurangan sumber energi, melainkan kehilangan kemampuan mengeluarkan potensi yang sudah ada di kebunnya sendiri.

Masalahnya bukan pada lahan. Bukan pula pada iklim. Bahkan bukan pada pasar. Persoalannya terletak pada satu hal yang lebih mendasar—perkebunan sawit Indonesia, dalam banyak kasus, tidak dikelola sebagaimana mestinya.

Padahal hitung-hitungan ekonominya nyaris sulit dipercaya.

BACA JUGA: Total BK dan PE CPO Mei 2026 Capai US$ 309,20 per Ton, Harga Referensi Naik ke US$ 1.049,58

Produksi sawit nasional—gabungan minyak sawit dan inti sawit—pada 2024 tercatat sekitar 52,8 juta ton. Angka itu besar. Namun dibanding potensi riil yang diperkirakan bisa melampaui 100 juta ton per tahun, capaian tersebut baru setengah jalan. Ada jurang produktivitas yang begitu lebar antara apa yang dihasilkan dan apa yang seharusnya bisa dicapai.

Jurang itulah yang oleh banyak kalangan dibaca sebagai peluang ekonomi yang hilang—nilainya diperkirakan mencapai Rp800 triliun hingga Rp1.000 triliun setiap tahun.

Bagi negara yang sedang mengejar swasembada energi, memperkuat biofuel, dan menggenjot pertumbuhan ekonomi desa, angka sebesar itu bukan sekadar kehilangan potensi. Ia adalah kemewahan yang terbuang.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw Kamis (30/4), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Ditutup Melemah

 

Sawit yang Dibiarkan Tumbuh Sendiri

Persoalan sawit nasional sesungguhnya bukan cerita tentang tanaman yang gagal tumbuh. Ia justru tumbuh. Tetapi banyak kebun dibiarkan berjalan sendiri, nyaris tanpa manajemen yang layak.

Pemupukan tak dilakukan optimal. Perawatan tanaman diabaikan. Jalan produksi rusak bertahun-tahun. Drainase buruk. Gulma menutup kanopi. Panen terlambat. Buah matang terlewat. Brondolan tertinggal di kebun. Sebagian tandan buah segar bahkan tak pernah sampai ke pabrik karena tak ada akses angkut yang memadai.

Di banyak tempat, kebun sawit akhirnya hanya dipanen di bagian terluar. Bagian dalamnya nyaris menjadi hutan kecil—rimbun, tak terurus, dan secara ekonomi tidak produktif.

BACA JUGA: Sawit Sumbang 3,5% PDB, Ekspor 2025 Tembus US$40 Miliar

Pemandangan seperti itu bukan hanya ditemukan di perkebunan rakyat. Ironisnya, ia juga hadir di sebagian Perkebunan Besar Swasta (PBS).

Ada perusahaan yang memiliki konsesi luas, tetapi mengelola kebunnya sekadarnya. Jalan produksi seadanya. Pemupukan minim. Perawatan tak terukur. Fokus bisnisnya bukan menggali produktivitas, melainkan lebih sibuk pada jual beli aset kebun.

Dalam logika bisnis jangka pendek, praktik itu mungkin menguntungkan. Dalam logika pembangunan nasional, ia justru menjadi beban: produksi rendah, pajak kecil, lapangan kerja stagnan, dan tekanan lingkungan meningkat.

Negara kehilangan penerimaan. Petani kehilangan kesejahteraan. Ketahanan energi kehilangan fondasi.

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com