InfoSAWIT, KUTAI TIMUR — Pagi itu, matahari baru saja menyingkap lembut rimba Kalimantan saat suara pintu kandang besi terbuka pelan di jantung Hutan Kehje Sewen. Seekor orangutan betina bernama Mori melangkah keluar. Ia berhenti sejenak, mencium udara, lalu perlahan memanjat pohon terdekat. Di belakangnya, Bugis mengikuti, matanya menelusuri dahan dan ranting seolah tengah membaca kembali naskah lama tentang rumah yang pernah ia kenal.
Tanggal 23 April 2025 menjadi penanda momen bersejarah bagi upaya pelestarian orangutan Indonesia. Enam individu orangutan—lima di antaranya dilepasliarkan dan satu lainnya direintroduksi setelah rehabilitasi—kembali ke habitat alami mereka. Pelepasliaran ini dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Balai KSDA Kalimantan Timur, dan Yayasan BOS, dengan dukungan Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), di kawasan kerja PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (PT RHOI), Kabupaten Kutai Timur.
Namun kisah ini bukan sekadar tentang pelepasan satwa. Ini adalah kisah perjalanan penuh harapan, dedikasi, dan kerja sama lintas lembaga demi kelangsungan hidup salah satu spesies paling ikonik di bumi.
Dari Samboja Lestari Menuju Hutan
Perjalanan dimulai sehari sebelumnya, 22 April 2025. Di Pusat Rehabilitasi Samboja Lestari, tim medis bekerja penuh ketelitian. Keenam orangutan disedasi dengan hati-hati, lalu dipindahkan satu per satu ke dalam kandang transportasi. Kesejahteraan satwa menjadi prioritas, karena mereka akan menempuh perjalanan darat panjang menuju hutan tujuan.
Dikutip keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Selasa (13/5/2025), Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, secara simbolis melepas tim pelepasliaran pada sore hari itu. Rombongan lalu memulai perjalanan selama 12 jam menuju Muara Wahau. Setiap dua jam, tim berhenti untuk memeriksa kondisi satwa, memberi buah segar dan air, memastikan kenyamanan mereka.
Tiba dini hari, tim beristirahat sejenak sebelum melanjutkan ke dermaga sungai. Di sini, kandang dilengkapi pelampung, dan kelotok membawa mereka menyeberangi sungai menuju titik pelepasliaran di hutan—proses yang berlangsung cepat, hanya lima menit, namun tetap menegangkan.
BACA JUGA: Permintaan Minyak Sawit India Melonjak di April, Didorong Harga Murah dan Margin Impor Positif
Di tengah rimba, satu per satu pintu kandang dibuka. Mori menjadi yang pertama. Ia pernah dilepasliarkan pada 2019, namun harus kembali ke pusat rehabilitasi karena sakit melioidosis. Kini, sembuh dan kuat, Mori kembali ke alam. Tak lama kemudian, Bugis menyusul—keduanya bahkan terlihat kawin, sinyal bahwa adaptasi mereka berjalan baik.
Mikhayla, yang kisahnya menyentuh hati banyak orang, juga dilepas. Ia ditemukan di area tambang dalam kondisi kurus dan lemah. Menteri Raja Juli Antoni sendiri yang membuka kandangnya. Begitu pintu terbuka, Mikhayla meloncat gesit dan langsung memanjat pohon.
