InfoSAWIT, KUALA LUMPUR — Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) diprediksi akan mencapai RM4.000 per ton pada tahun 2026, menurut proyeksi terbaru dari Kenanga Investment Bank Bhd (Kenanga Research). Meskipun saat ini harga mengalami penurunan dari level tertingginya pada akhir 2024, pasar diperkirakan tetap stabil di tengah tantangan global.
Dalam laporan riset terbarunya, Kenanga Research menyebutkan bahwa sepanjang kuartal pertama 2025, harga CPO sempat menikmati premium atas minyak kedelai. Namun, keunggulan harga itu kini telah memudar. Di sisi lain, permintaan biodiesel—terutama dari Amerika Serikat—turut mengalami penurunan, walaupun aktivitas pengisian kembali stok oleh para pembeli masih berlangsung.
“Defisit pasokan masih akan berlanjut sepanjang 2025, yang berpotensi menekan persediaan secara signifikan secara tahunan. Oleh karena itu, harga CPO diperkirakan akan tetap stabil dalam kisaran RM4.000 hingga RM4.500 per ton,” tulis Kenanga Research, dikutip InfoSAWIT dari The Malaysian Reserve, Selasa (13/5/2025).
BACA JUGA: Dorong Hilirisasi Sawit Skala Kecil, Riau Ingin Libatkan Koperasi dan Industri Rakyat
Bank investasi tersebut memperkirakan harga rata-rata CPO sebesar RM4.200 per ton untuk tahun 2025, dan akan sedikit turun menjadi RM4.000 per ton pada 2026.
Meski pasar menghadapi tantangan dari sisi energi terbarukan dan perdagangan global, Kenanga Research tetap optimistis terhadap sektor perkebunan. Sektor ini dinilai memiliki pendapatan yang defensif karena lebih dari dua pertiga (70%) permintaan minyak nabati berasal dari konsumsi pangan, sementara sekitar 23% digunakan untuk produksi biodiesel.
“Permintaan minyak sawit tetap tangguh, dengan pertumbuhan tahunan yang stabil, bahkan di tengah perlambatan ekonomi global, kebijakan perdagangan yang proteksionis, dan ketegangan geopolitik,” tambah laporan tersebut.
BACA JUGA: Petani Sawit Swadaya di Jantung Kalimantan Tunjukkan Komitmen Lingkungan
Selain itu, neraca keuangan perusahaan-perusahaan di sektor perkebunan juga tergolong kuat. Banyak perusahaan sawit yang memiliki posisi kas bersih atau beban utang yang masih bisa dikelola, dengan margin keuntungan yang tetap sehat—berkat harga CPO dan inti sawit yang masih berada di level menguntungkan.
Stabilitas harga dan ketahanan permintaan menjadikan sektor ini tetap menarik bagi investor, terlebih dalam situasi global yang tidak pasti. Dengan proyeksi harga CPO yang tetap tinggi dan fundamental perusahaan yang kokoh, industri perkebunan sawit diperkirakan akan terus menjadi pilar penting dalam perekonomian agribisnis kawasan. (T2)
