InfoSAWIT, NEW DELHI — Setelah lima bulan lesu, permintaan minyak sawit India kembali meningkat tajam pada April 2025. Kenaikan ini didorong oleh harga minyak sawit yang lebih murah dibandingkan minyak nabati lain serta margin impor yang lebih menguntungkan, menurut laporan dari Platts, bagian dari S&P Global Commodity Insights.
Sebagai importir minyak sawit terbesar di dunia, India menunjukkan preferensi yang kuat terhadap minyak sawit dibandingkan minyak kedelai. Saat ini, minyak sawit mentah (CPO) ditawarkan dengan harga lebih rendah dibandingkan minyak kedelai, menjadikannya pilihan utama bagi pembeli lokal.
“Margin impor untuk minyak sawit saat ini positif, sementara untuk produk pesaing seperti olein, minyak bunga matahari, dan minyak kedelai masih negatif. Karena itu, pembeli India cenderung memilih membeli minyak sawit,” ujar seorang sumber pasar dilansir Reuters.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw Pada Jumat (9/5), Harga Minyak Sawit di Bursa Malaysia Menguat
Sumber lain menambahkan bahwa pembeli India sangat sensitif terhadap harga dan margin. “Dengan kondisi saat ini yang menguntungkan, mereka pasti akan melakukan restok, apalagi pembelian beberapa bulan terakhir tergolong rendah,” katanya.
Data dari Solvent Extractors’ Association of India menunjukkan impor minyak sawit India meningkat 13,7% menjadi 424.599 metrik ton pada Maret, dari 373.549 metrik ton pada Februari. Namun, angka ini masih 38% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan harga minyak sawit global terutama disebabkan oleh peningkatan produksi dan stok di Malaysia, serta kekhawatiran pasar atas potensi tarif dari Amerika Serikat. Ini mendorong harga CPO turun sepanjang April.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 9-13 Mei 2025 Melorot Rp 103,53 per Kg
Kontrak berjangka CPO bulan ketiga di Bursa Malaysia tercatat turun 10,55% sejak awal bulan menjadi MYR 4.035 per metrik ton (setara USD 919,55/mt) per 23 April.
Saat ini, minyak sawit sekitar USD 50/mt lebih murah dari minyak kedelai, berbanding terbalik dengan kondisi Maret lalu ketika minyak kedelai lebih murah USD 70–100/mt dari CPO.
