InfoSAWIT, JAKARTA – Pemerintah menegaskan bahwa riset dan inovasi menjadi fondasi utama dalam memperkuat daya saing industri kelapa sawit nasional, terutama setelah dimulainya implementasi mandatori Biodiesel 50 (B50). Langkah tersebut dinilai penting untuk mendukung target swasembada energi sekaligus mempercepat hilirisasi produk sawit bernilai tambah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia harus mampu mengintegrasikan riset, kebijakan, investasi, dan kapasitas industri agar mampu menghasilkan inovasi yang berdampak langsung terhadap perekonomian nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga saat menutup rangkaian Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 di Jakarta, Selasa lalu. Dalam kesempatan itu, ia mengapresiasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang secara konsisten menghadirkan forum kolaborasi antara kalangan akademisi, pemerintah, industri, dan investor.
Dari keterangan resmi dilansir InfoSAWIT, Minggu (26/7/2026), menurut Airlangga, Indonesia membutuhkan lebih banyak riset aplikatif yang mampu menghasilkan teknologi baru maupun produk turunan sawit dengan nilai ekonomi tinggi. Ia juga memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang berhasil mengembangkan inovasi berbasis sawit, mulai dari bahan baku polyurethane foam hingga material anoda yang memanfaatkan tandan buah sawit (TBS).
Data BPDP menunjukkan industri sawit tetap menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional. Sepanjang 2025, sektor ini menyumbang sekitar 3,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Nilai ekspor produk sawit mencapai USD 30,87 miliar dengan volume 38,84 juta ton, meningkat sekitar 11,05 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Airlangga menjelaskan, implementasi mandatori B50 yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026 dan diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 9 Juli 2026 merupakan bukti bahwa hasil riset dapat diterjemahkan menjadi kebijakan nasional yang didukung investasi dan kesiapan industri.
Ia menilai keberhasilan program B50 harus menjadi pijakan untuk memperluas hilirisasi menuju produk energi terbarukan generasi berikutnya, seperti green diesel, Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis Used Cooking Oil (UCO), hingga bensin berbahan baku sawit. Produk-produk tersebut diyakini mampu meningkatkan nilai tambah sekaligus memperluas peluang investasi di sektor hilir.
Meski demikian, Airlangga mengingatkan bahwa keberlanjutan industri sawit tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi. Penguasaan teknologi, peningkatan produktivitas kebun, pengembangan produk hilir, serta tata kelola yang berkelanjutan harus berjalan secara bersamaan agar industri sawit Indonesia tetap kompetitif di pasar global.
Forum PERISAI 2026 juga menjadi wadah bagi generasi muda untuk menunjukkan inovasi di sektor sawit melalui Lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa yang diikuti peserta dari 40 perguruan tinggi di Indonesia. Setelah melalui proses seleksi selama dua hari, sebanyak 10 finalis dipilih dan tiga karya terbaik memperoleh penghargaan.
Airlangga menilai keterlibatan perguruan tinggi sangat penting mengingat Indonesia merupakan produsen sawit terbesar di dunia. Karena itu, hasil penelitian para akademisi diharapkan tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat diadopsi industri melalui proses komersialisasi dengan tetap memberikan perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual para peneliti.
Selain mendorong inovasi di sektor sawit, pemerintah juga menaruh perhatian pada percepatan program peremajaan tanaman kakao dan kelapa. Kedua komoditas tersebut didominasi perkebunan rakyat sehingga peningkatan produktivitas dinilai akan berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani.
Menutup sambutannya, Airlangga mengajak BPDP, perguruan tinggi, lembaga riset, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat kolaborasi agar hasil riset mampu memberikan manfaat nyata bagi pembangunan industri sawit nasional, meningkatkan kesejahteraan petani, serta menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia. (T2)
