InfoSAWIT, JAKARTA – Pasar sawit sedang bergerak di bawah bayang-bayang perang, energi mahal, dan konsumsi domestik yang kian agresif. Harga naik, tetapi bersama itu risiko, biaya, dan ketidakpastian ikut membesar.
Di pasar minyak sawit, harga acap kali bergerak bukan semata oleh cuaca, panen, atau ritme musiman kebun. Ada masa ketika grafik harga melonjak karena dentuman meriam ribuan kilometer jauhnya; ketika kapal tanker memilih memutar haluan; ketika premi asuransi laut naik diam-diam; dan ketika energi fosil yang mahal tiba-tiba membuat biodiesel sawit terlihat jauh lebih masuk akal. Pada momen itulah, crude palm oil (CPO) tak lagi sekadar komoditas agrikultur—ia berubah menjadi instrumen geopolitik.
Menurut Kepala Bagian Bursa dan Pengembangan Bisnis, Andrial Saputra, eskalasi konflik di Timur Tengah pada kuartal pertama 2026 telah menciptakan gelombang kejut yang terasa hingga ke lantai tender sawit domestik. Dampaknya bukan abstraksi ekonomi. Ia nyata, terukur, dan mengubah kalkulasi pasar.
BACA JUGA: Perusahaan Sawit di Kutai Timur Didorong Perkuat Kepemimpinan Perempuan dan Budaya Kerja Inklusif
Harga kontrak CPO di Bursa Malaysia Derivatives melonjak hingga RM 4.631 per ton pada akhir Maret—naik sekitar 14,6 persen. Di pasar domestik, harga referensi KPBN yang sebelumnya berada di bawah Rp 15.000 per kilogram, sempat menembus Rp 16.275 per kilogram, level tertinggi tahun ini. Lonjakan itu bukan kebetulan, melainkan refleksi dari satu fakta, perang di Timur Tengah telah menekan dua nadi utama perdagangan global—energi dan logistik.
Di jalur energi, ancaman terhadap Selat Hormuz—koridor yang dilalui sekitar 20 persen pengangkutan minyak mentah dunia—mengerek harga minyak global. Efek rambatannya cepat, harga solar naik, biaya energi industri membengkak, dan biodiesel berbasis sawit mendadak menjadi lebih kompetitif.
Di jalur logistik, ancaman keamanan di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb memaksa kapal-kapal dagang menghindari zona konflik. “Konsekuensinya mahal, biaya pengiriman diperkirakan melonjak 50 hingga 65 persen, belum termasuk premi asuransi yang ikut membubung. Sawit memang menikmati kenaikan harga, tetapi di sisi lain menanggung beban distribusi yang jauh lebih berat,” tutur Andrial kepada InfoSAWIT, belum lama ini. (T2)
