Jam yang Tak Pernah Dihitung, Perempuan dan Beban Ganda di Perkebunan Sawit

oleh -5.927 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
infosawit
Dok. Sawit Fest 2021/Foto: Suwardi

InfoSAWIT, JAKARTA – Belum pula pukul tujuh, namun ia sudah memulai hari dengan pekerjaan tak berbayar yang jarang dihitung — bahkan oleh negara. Inilah potret perempuan di banyak kawasan perkebunan sawit di Indonesia, pekerja yang tak terlihat di dua dunia yang berbeda.

Di sebuah seminar nasional bertajuk Partisipasi Perempuan di Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia, seorang peneliti dari Pusat Studi Agraria IPB University, Dyah Ita Mardiyaning, membuka tabir realitas yang selama ini jarang dibicarakan, bagaimana peran perempuan di sektor perkebunan, khususnya sawit, sering kali tak sepenuhnya terlihat — meskipun mereka turut menopang rumah tangga dengan peluh dan tenaga.

Dalam pemaparannya, Dyah menggambarkan dengan cermat bagaimana peran perempuan dalam menghasilkan pendapatan rumah tangga masih berada di posisi terbawah, jika dibandingkan dengan kelompok lain. Menariknya, hal ini terutama berlaku bagi mereka yang terlibat langsung di sektor sawit. “Di Sumatera dan Riau, laki-laki dan perempuan relatif seimbang dalam kontribusi ekonomi. Tapi di Kutai Kartanegara, muncul pandangan bahwa perempuan lebih dihargai jika tidak bekerja,” ujarnya dalam diskusi yang dihadiri InfoSAWIT, pertengahan Mei 2025.

BACA JUGA: DxP Dami Mas IGR Jadi Solusi Bibit Toleran Ganoderma untuk Peremajaan Sawit

Pandangan budaya seperti ini, menurut Dyah, berperan besar dalam membentuk pola kerja perempuan. Ada anggapan bahwa tugas mencari nafkah adalah tanggung jawab laki-laki, sementara perempuan yang bekerja justru dianggap mengisi kekosongan atau melaksanakan “pengabdian” kepada keluarga. “Bahkan ada yang menganggap jika perempuan tidak bekerja tetapi dihargai oleh keluarga, itu sudah cukup,” jelasnya.

Namun, di balik semua itu, Dyah dan timnya menelusuri data yang berbicara lain. Dari lima kategori pekerja perempuan yang mereka amati, ditemukan bahwa mereka yang bekerja dari rumah — tanpa harus keluar ke kebun atau tempat kerja formal — justru memikul beban kerja domestik paling berat. Dari memasak, mencuci, mengasuh anak, hingga merawat anggota keluarga yang sakit, semua jatuh ke pundak mereka.

“Kalau dihitung dalam satu hari, pekerjaan perempuan bisa menghabiskan waktu hingga 18–20 jam,” ujar Dyah. Dan meskipun mereka hanya bekerja sekitar lima jam di sektor publik — angka yang cenderung merata di berbagai wilayah — kontribusi mereka terhadap pendapatan keluarga tidak bisa dianggap remeh.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 17-23 September 2025 Turun Tipis

Di Asahan, Sumatera Utara misalnya, banyak suami yang bekerja di luar kota, meninggalkan perempuan dengan dua peran sekaligus, sebagai pencari nafkah dan pengelola rumah tangga. Realitas ini, menurut Dyah, memperlihatkan bagaimana perempuan di perkebunan sawit tidak hanya bekerja keras, tetapi juga menghadapi tekanan sosial dan struktural yang besar.

Menutup paparannya, Dyah menekankan perlunya pendekatan yang lebih adil terhadap pembagian peran domestik. “Pendidikan dan kesadaran tentang pentingnya berbagi tanggung jawab rumah tangga, terutama bagi laki-laki dan anggota keluarga lain, harus ditingkatkan. Perempuan sudah bekerja keras, dan mereka berhak untuk tidak bekerja sendirian di dua dunia yang berbeda.” (T2)

Lebih lengkap baca Majalah InfoSAWIT Edisi Juli 2025


Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com