InfoSAWIT, JAKARTA – Sejarah sawit Indonesia bermula jauh sebelum negeri ini mengenal istilah “komoditas strategis”. Sekitar tahun 1848, Belanda membawa bibit sawit pertama dari Afrika Barat ke Kebun Raya Bogor—tanpa pernah membayangkan bahwa tanaman ini kelak akan menjadi sumber devisa terbesar Indonesia.
“Bayangkan,” tutur Ketua Bidang Riset & Pengembangan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI), Dwi Asmono, “hanya 503 individu sawit pertama yang datang. Dari situlah kemudian berkembang menjadi jutaan hektare kebun seperti sekarang. Secara genetik, ini artinya kita sudah mengalami penyempitan yang luar biasa.”
Dalam dunia genetika, semakin sempit keragaman genetik, semakin rentan pula ketahanan tanaman terhadap penyakit atau perubahan iklim. “Kalau manusia saja dilarang kawin antar saudara, sawit pun begitu. Kita butuh darah baru,” ucapnya dalam sebuah Talkshow dihadiri InfoSAWIT, akhir Oktober 2025 lalu di Bogor.
BACA JUGA: Merajut Keberlanjutan dari Meja Pasar ke Kebun Sawit
Kesadaran akan minimnya variasi genetik inilah yang mendorong GAPKI bersama Kementerian Pertanian dan BPDP melakukan introduksi sumber daya genetik baru.
Mulai dari Afrika Barat, Amerika Selatan, hingga Tanzania, benih-benih baru sawit dikaji dan diuji untuk memperkaya plasma nutfah Indonesia.
Namun, langkah itu tidak semudah membawa koper berisi benih dari luar negeri. Ada prosedur karantina ketat yang harus dilalui untuk mencegah masuknya penyakit tanaman mematikan seperti phytophthora bud rot atau ganoderma, jamur akar yang menjadi momok bagi perkebunan di Asia Tenggara.
BACA JUGA: Fortasbi Ungkap Beratnya Jalan Petani Sawit Menuju ISPO: Biaya Tinggi hingga Masalah Kawasan Hutan
“Kita pernah belajar dari sejarah,” kenang Dwi. “Ketika dulu bibit kelapa hibrida dimasukkan tanpa kontrol yang ketat, penyakit ikut terbawa. Akibatnya industri kelapa sempat hancur pada awal 1990-an. Kita tidak boleh mengulangi kesalahan itu di sawit.”
Bagi Dwi, riset sawit selalu berjalan di garis tipis antara inovasi dan kehati-hatian. “Saya percaya kita harus berani berinovasi. Tapi inovasi tanpa keamanan biologis itu berbahaya. Sekali ada penyakit yang lolos, kerugiannya bisa bertahan puluhan tahun,” tegasnya. (T2)
