InfoSAWIT, JAKARTA – Awal Februari lalu, di sebuah ruang pertemuan yang diisi para jurnalis sektor pertanian dan perkebunan, pemerintah kembali menegaskan satu komitmen yang sejak satu dekade terakhir menjadi poros kebijakan energi nasional, biodiesel sawit akan terus dilanjutkan. Tahun 2025 dan 2026 ditandai sebagai fase penting dengan implementasi campuran B40—empat puluh persen bahan bakar nabati dalam setiap liter solar yang beredar di jalanan Indonesia.
Herbert Wibert Victor Hasudungan, Sub Koordinator Pengawasan Usaha Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), menyebut realisasi program sepanjang 2025 menunjukkan tren positif. Dari total alokasi 15,6 juta kiloliter, penyaluran mencapai hampir 14,9 juta kiloliter hingga akhir tahun.
“Secara umum realisasi 2025 berjalan baik dan diperkirakan masih akan meningkat hingga akhir periode,” ujar Herbert dalam acara Workshop dihadiri InfoSAWIT, awal Februari 2026 lalu.
BACA JUGA: FORTASBI dan Petani Sawit Aceh Tamiang Bangun Rehabilitasi Lahan, Dorong Model Agro-Biodiversity
Program ini ditopang oleh 24 badan usaha bahan bakar nabati dan 28 badan usaha bahan bakar minyak, serta didukung oleh 80 titik serah yang tersebar di berbagai wilayah. Sekilas, angka-angka tersebut menyampaikan satu pesan: program berjalan.
Namun, seperti kebijakan energi lainnya, implementasi biodiesel tidak semata soal volume yang tersalur. Ia adalah sistem kompleks yang bergantung pada tata kelola distribusi, infrastruktur logistik, stabilitas harga, hingga keberlanjutan pasokan bahan baku di hulu.
Memasuki 2026, pemerintah menetapkan alokasi baru sebesar 15,64 juta kiloliter—sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya—dengan peningkatan jumlah badan usaha serta penambahan titik serah menjadi 85 lokasi. Sejumlah perbaikan disiapkan, mulai dari revisi pedoman alokasi volume hingga pembaruan sistem pelaporan daring berbasis real-time.
BACA JUGA: PTPN IV PalmCo Gandeng ITS Kembangkan Bensin Sawit untuk Lima Tahun Kedepan
“Dengan berbagai perbaikan ini, kami optimistis penyaluran biodiesel 2026 dapat berjalan lebih efektif dan akuntabel, sekaligus memperkuat peran biodiesel sawit dalam ketahanan energi nasional,” kata Herbert.
Optimisme pemerintah menemukan gaungnya di sektor industri. Ernest Gunawan, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), memperkirakan kebutuhan biodiesel B40 pada 2026 akan berada di kisaran 15,4 hingga 15,6 juta kiloliter—setara dengan hampir 98 juta barel minyak atau sekitar 163 hari produksi minyak nasional.
“Program B40 bukan hanya soal energi, tetapi juga instrumen penting untuk meningkatkan pendapatan petani sawit Indonesia dan menjaga keberlanjutan industri,” ujarnya. (T2)
