InfoSAWIT, JAKARTA – Badan Pengelola Dana Perkebunan kembali menegaskan pentingnya proposal riset yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga memiliki target capaian yang terukur, roadmap implementasi yang jelas, serta manfaat ekonomi yang dapat dihitung. Peneliti didorong untuk menyusun proposal berbasis Technology Readiness Level (TRL) agar hasil riset memiliki arah pengembangan yang konkret menuju adopsi industri dan dampak nyata di lapangan.
Hal tersebut disampaikan Komite Litbang BPDP, Tony Liwang, dalam Webinar Call for Proposal Grant Riset BPDP 2026, Kamis (30/4/2026), yang dihadiri InfoSAWIT.
Menurut Tony, salah satu kelemahan umum proposal riset adalah belum menggambarkan secara rinci posisi awal inovasi, target level teknologi yang ingin dicapai, serta berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapainya. Padahal, pendekatan berbasis TRL penting agar peneliti memiliki peta jalan yang realistis dalam membawa hasil riset dari laboratorium menuju implementasi.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode II-April 2026 Naik Rp. 107,91 per Kg
“Peneliti harus bisa menjelaskan dari level berapa teknologi dimulai, akan dibawa ke level berapa, dan dalam jangka waktu berapa lama target itu bisa dicapai. Ini penting agar arah pengembangan inovasi menjadi jelas,” ujar Tony Liwang.
Dampak Harus Bisa Diukur, Bukan Sekadar Asumsi Positif
Tony menekankan, proposal riset juga perlu menyajikan indikator manfaat yang terukur, bukan hanya pernyataan umum bahwa suatu inovasi akan memberi dampak positif.
Sebagai contoh, dalam kajian penerapan standar keberlanjutan seperti sertifikasi ISPO, peneliti diminta menghitung secara lebih konkret potensi dampak ekonomi maupun sosial yang dapat dihasilkan, seperti penurunan angka kecelakaan kerja, efisiensi biaya operasional, peningkatan produktivitas tenaga kerja, hingga kenaikan pendapatan petani sawit.
BACA JUGA: Urgensi RPerpres RAN-KSB 2025–2029 Kian Menguat, Jadi Kunci Reformasi Industri Sawit
“Kami tidak berharap hanya disebut dampaknya positif. Yang kami ingin lihat adalah seberapa besar dampaknya, dari kondisi berapa menjadi berapa, kapan tercapai, dan apa implikasi ekonominya,” tegasnya.
Roadmap Implementasi Harus Realistis
Selain indikator kuantitatif, BPDP juga menginginkan proposal yang memuat timeline implementasi yang realistis, baik untuk program satu tahun maupun multi-tahun. Peneliti diharapkan mampu menggambarkan tahapan pencapaian secara bertahap, mulai dari tahun pertama, kedua, hingga target akhir implementasi.
Pendekatan ini dinilai penting agar reviewer dapat menilai kelayakan riset secara lebih objektif, termasuk mengukur potensi keberhasilan inovasi untuk diadopsi industri atau diaplikasikan oleh petani.
BACA JUGA: Total BK dan PE CPO Mei 2026 Capai US$ 309,20 per Ton, Harga Referensi Naik ke US$ 1.049,58
Tony menambahkan, tidak semua inovasi memang dapat memberikan hasil instan dalam satu tahun. Namun, proposal setidaknya harus menunjukkan arah progres yang jelas, lengkap dengan estimasi perubahan yang ingin dicapai dalam kurun waktu tertentu.
Keekonomian Jadi Kunci Penilaian Proposal
Komite Litbang BPDP juga menyoroti pentingnya analisis keekonomian dalam proposal. Setiap inovasi harus mampu menunjukkan nilai tambah secara finansial, baik dalam bentuk penghematan biaya, peningkatan efisiensi, kenaikan produktivitas, maupun manfaat ekonomi jangka panjang bagi industri dan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, BPDP berharap Grant Riset 2026 dapat melahirkan inovasi yang bukan hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga layak secara bisnis, aplikatif di lapangan, dan berdampak nyata terhadap penguatan daya saing sektor sawit nasional. (T2)
