InfoSAWIT, JAKARTA – Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani, menegaskan peningkatan produksi minyak sawit nasional harus berjalan seiring dengan penguatan aspek keberlanjutan, restorasi lingkungan, serta pembangunan model kemitraan yang lebih inklusif bagi petani sawit.
Menurut Ghani, potensi produksi nasional sejatinya masih sangat besar jika pengelolaan lahan sawit dilakukan secara optimal dan berbasis tata kelola yang baik. Dari pemetaan yang dilakukan, terdapat peluang peningkatan produksi dari kawasan budidaya yang legal dan produktif untuk menopang target produksi nasional yang jauh lebih tinggi pada masa mendatang.
“Kalau dikelola dengan baik, sebenarnya peluang mencapai produksi nasional yang jauh lebih besar sangat terbuka. Tetapi peningkatan itu tidak boleh mengabaikan aspek lingkungan. Justru kita harus membangun model perkebunan sawit yang selaras dengan konservasi,” ujar Ghani, saat memberikan pidato kunci pada Forum Diskusi Terbatas di Menara Agrinas Palma, dihadiri InfoSAWIT, Senin (27/4/2026), di Jakarta.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau 29 April – 5 Mei 2026 Turun Rp42,14 per Kg
Ia menjelaskan, salah satu pendekatan yang tengah didorong adalah penguatan orientasi hutan di dalam kawasan kebun melalui kewajiban konservasi pada areal marginal dan kawasan yang memiliki nilai ekologis tinggi. Konsep ini, menurutnya, dapat menjadi standar baru industri sawit Indonesia untuk menjawab berbagai isu global, termasuk tudingan deforestasi yang selama ini kerap disuarakan pasar Eropa.
Dalam skema tersebut, setiap pemegang hak guna usaha (HGU) didorong memiliki komitmen konservasi yang terukur, dievaluasi secara berkala oleh lembaga independen, dan menjadi bagian dari kepatuhan usaha.
“Bagi pelaku usaha, ini bukan beban, tetapi investasi bisnis jangka panjang. Ketika perusahaan serius menjaga lingkungan, manfaat ekonominya juga nyata, baik dari sisi nilai karbon maupun penerimaan pasar global yang semakin menuntut produk berkelanjutan,” katanya.
BACA JUGA: Ratusan Miliar Dana Riset Sawit Digelontorkan, Saatnya Hasil Litbang BPDP Menyentuh Industri
Sebagai contoh, Ghani mengungkapkan pengalaman pengelolaan perkebunan berbasis prinsip keberlanjutan mampu memberikan nilai tambah ekonomi melalui harga premium minyak sawit berkelanjutan dari pasar internasional. Data ini menunjukkan bahwa investasi pada konservasi dan praktik budidaya berkelanjutan dapat memberikan insentif ekonomi langsung bagi industri, ungkap manajemen dalam laporan tersebut.
Selain itu, Agrinas juga tengah menyiapkan model pengelolaan sawit ramah lingkungan dan ramah sosial, terutama dalam pengelolaan lahan sawit yang berada di kawasan hutan produksi yang saat ini dalam proses penataan oleh negara. Dari total potensi lahan yang akan dikelola, perusahaan menargetkan sebagian area dialokasikan sebagai kawasan konservasi untuk menjaga keseimbangan ekologis.
Strategi pengembangan Agrinas ke depan juga diarahkan pada pembangunan korporasi negara di sektor sawit yang tidak hanya mengejar produktivitas, tetapi juga menjadi model kemitraan baru yang lebih adil, modern, dan berkelanjutan, ungkap manajemen dalam laporan tersebut.
BACA JUGA: DSNG Bukukan Laba Rp421 Miliar pada Kuartal I-2026, Bisnis Sawit Tetap Jadi Penopang Utama
Dalam aspek kemitraan, Agrinas Palma Nusantara membentuk direktorat khusus yang fokus memperkuat hubungan dengan petani dan mitra usaha, termasuk membuka akses pendanaan melalui sektor perbankan, penguatan pembinaan teknis, serta mendorong pola kemitraan yang tidak lagi bersifat transaksional, melainkan berbasis pertumbuhan bersama.
Langkah ini diharapkan menjadi fondasi baru bagi pembangunan industri sawit nasional yang mampu meningkatkan produktivitas, menjaga keberlanjutan lingkungan, sekaligus memperkuat posisi petani sawit dalam rantai nilai industri secara lebih strategis. (T2)
