InfoSAWIT, JAKARTA — Industri kelapa sawit kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu penopang utama perekonomian nasional. Di tengah tekanan ekonomi global yang masih dinamis, sektor sawit mampu mencatatkan pertumbuhan positif melalui peningkatan ekspor, penguatan program hilirisasi, hingga kontribusi langsung terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya petani sawit.
Staf Ahli Bidang Konektivitas dan Pengembangan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dida Gardera, mengungkapkan kontribusi industri sawit terhadap perekonomian nasional mencapai sekitar 3,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut menunjukkan peran strategis komoditas sawit dalam menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Kontribusi industri sawit ini cukup besar, sekitar 3,5% terhadap PDB kita. Ini cukup besar. Nilai ekspor pada 2025 juga mencatat rekor, sekitar US$40 miliar dengan volume 38,84 juta ton, atau meningkat 11%,” ujar Dida dalam Rapat Koordinasi Kebijakan Rencana Aksi Nasional Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAN-KSB), dalam keterangan resmi diperoleh InfoSAWIT, Jumat (1/5/2026).
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalbar Periode IV-April 2026 Turun Rp. 117,36 per Kg
Capaian ekspor tersebut menegaskan bahwa sawit masih menjadi komoditas unggulan Indonesia di pasar global. Tidak hanya mendatangkan devisa negara, industri ini juga memberi efek berganda bagi perekonomian domestik, terutama melalui peningkatan harga tandan buah segar (TBS) yang berdampak positif pada pendapatan petani sawit.
Di pasar domestik, pemanfaatan minyak sawit untuk energi terbarukan juga terus diperkuat. Setelah implementasi program biodiesel B35 pada 2024, pemerintah melanjutkannya dengan kebijakan B40 pada 2025, dan kini tengah mempersiapkan implementasi B50. Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan impor bahan bakar minyak.
Pemerintah memperkirakan kebijakan biodiesel tersebut mampu menghasilkan efisiensi hingga sekitar Rp48 triliun melalui pengurangan impor energi fosil. Selain memperbesar serapan sawit di dalam negeri, kebijakan ini juga memperkuat posisi sawit sebagai komoditas strategis dalam transisi energi nasional.
BACA JUGA: SSMS Tebar Dividen Rp800 Miliar, Perkuat Tata Kelola Berkelanjutan Sambut Prospek Sawit 2026
Sementara itu, strategi hilirisasi industri sawit terus menunjukkan hasil nyata. Jika satu dekade lalu ekspor minyak sawit mentah (CPO) masih mendominasi, kini proporsi ekspor bahan mentah turun signifikan menjadi sekitar 8%. Kondisi ini mencerminkan semakin besarnya nilai tambah yang diciptakan di dalam negeri melalui pengolahan produk turunan sawit.
Di sisi keberlanjutan, implementasi RAN-KSB terus diperkuat sebagai pijakan menjaga keseimbangan antara produksi, kebutuhan domestik, dan ekspor. Penguatan sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil juga menjadi fokus, termasuk melalui penyempurnaan regulasi dan pembenahan tata kelola data geospasial.
Menurut Dida, sinergi lintas kementerian, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar industri sawit tetap berdaya saing sekaligus berkelanjutan.
BACA JUGA: Grant Riset BPDP 2026 Dibuka, BPDP Tekankan Dampak Nyata dan Seleksi Administratif yang Ketat
“Komitmen bersama sangat penting agar sawit terus terjaga sebagai komoditas unggulan dan menjadi instrumen utama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tutupnya.
Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat lintas kementerian, akademisi, penasihat kebijakan RAN-KSB, serta perwakilan United Nations Development Programme yang bersama-sama membahas penguatan kebijakan sawit berkelanjutan dari hulu hingga hilir. (T2)
