InfoSAWIT, JAKARTA – Diutarakan Ketua Kelompok Peneliti Proteksi Tanaman di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Tjut Ahmad Perdana Rozziansha, yanga berbagi pandangannya mengenai proses penyerbukan kelapa sawit. Menurutnya, penyerbukan tidak hanya terjadi melalui bantuan angin (anemofili), tetapi juga dibantu oleh serangga (entomofili). Beberapa serangga, seperti Thrips hawaiiensis, mungkin hanya berperan sebagai penyerbuk sekunder. Namun, pahlawan sebenarnya dalam proses ini adalah para kumbang Elaeidobius—termasuk Elaeidobius kamerunicus, E. subvittatus, E. plagiatus, dan spesies lainnya.
Kumbang Elaeidobius memainkan peran kunci dalam proses polinasi. Pollen atau serbuk sari menempel di tubuh kumbang ini saat mereka makan di bunga jantan. Ketika pagi tiba, bunga betina kelapa sawit mengeluarkan aroma yang menarik perhatian kumbang Elaeidobius. Kumbang tersebut kemudian terbang menuju bunga betina, tanpa sadar membawa pollen yang kemudian menyerbuki putik-putik di bunga betina tersebut.
Namun, kondisi di lapangan tidak selalu ideal. Kumbang E. kamerunicus memiliki kebiasaan yang unik—mereka paling aktif di pagi hari, antara pukul 07.00 hingga 10.00. Ketika hujan turun di pagi hari, aktivitas mereka berkurang, dan ini bisa menjadi tantangan dalam memastikan proses penyerbukan berjalan optimal.
BACA JUGA:
Oleh karena itu, Ahmad Perdana dan timnya berencana untuk mengintroduksi kembali E. kamerunicus ke Indonesia, dengan harapan dapat memperbaiki kualitas genetik serangga ini yang telah melalui lebih dari 1000 generasi. Tidak hanya itu, mereka juga sedang menjajaki pengenalan spesies Elaeidobius baru yang dapat membantu menutupi kekurangan E. kamerunicus selama musim hujan.
“Pengenalan serangga penyerbuk baru dan re-introduksi E. kamerunicus diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan memperbaiki perilaku serangga ini,” ujar Ahmad Perdana kepada InfoSAWIT. Lebih jauh, ia berharap bahwa upaya ini dapat menciptakan ekosistem yang lebih mirip dengan asal tanaman kelapa sawit, yaitu Afrika. (*)
