InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Sejumlah produsen besar alkohol lemak di Asia tengah berlomba memperluas kapasitas produksinya demi menjawab lonjakan permintaan global, khususnya dari sektor kebersihan dan perawatan pribadi. Ekspansi ini menandai babak baru dalam rantai pasok bahan baku utama bagi industri sabun, deterjen, hingga plastik.
Wilmar, salah satu pemain utama yang berbasis di Gresik, Indonesia, tengah membangun pabrik baru berkapasitas 110 ribu ton per tahun yang ditargetkan rampung pada kuartal pertama 2025. Dengan tambahan ini, total kapasitas Wilmar akan meningkat menjadi 560 ribu ton per tahun.
Sementara itu, Kuala Lumpur Kepong (KLK) juga tak mau ketinggalan. Perusahaan asal Malaysia ini tengah menyelesaikan pembangunan pabrik di Port Klang dengan kapasitas 50 ribu ton per tahun. Jika sesuai jadwal selesai pada kuartal pertama 2025, maka total kapasitas KLK akan mencapai 300 ribu ton per tahun.
BACA JUGA: 5 Perusahan Sawit Berlomba Bangun Pabrik Oleokimia
Di Indonesia, Permata Hijau tengah membangun pabrik di Medan dengan kapasitas 120 ribu ton per tahun yang direncanakan mulai beroperasi pada kuartal kedua 2025. Sementara itu di Thailand, Global Green menargetkan penyelesaian pabrik baru di Rayong dengan kapasitas 100 ribu ton per tahun pada tahun 2027. Jika rampung sesuai rencana, kapasitas totalnya akan mencapai 250 ribu ton per tahun.
Tren peningkatan produksi ini tak lepas dari tingginya permintaan pasar global. Data menunjukkan bahwa sekitar 48% permintaan fatty acids berasal dari industri pembersih dan perawatan pribadi, sementara 55% permintaan fatty alcohols digunakan di sektor sabun, deterjen, antioksidan, dan produk perawatan tubuh.
Namun, industri ini juga menghadapi tantangan. Biaya bahan baku diperkirakan masih tinggi hingga pertengahan 2025, meskipun ada potensi penurunan harga pada kuartal ketiga. Konsumsi bahan baku utama seperti minyak sawit, minyak kelapa, dan lemak hewan diproyeksikan meningkat pada kuartal keempat 2025.
BACA JUGA: B50 Diterapkan 2026, Industri Biodiesel Siap Dongkrak Ketahanan Energi Nasional
Di sisi regulasi, dinamika perdagangan global terus berubah. Penerapan bea masuk anti-dumping (ADD) membuat ekspor Indonesia ke pasar AS tetap kuat, sementara Malaysia unggul di pasar Eropa. Selain itu, implementasi Regulasi Anti-Deforestasi Uni Eropa (EUDR) diprediksi mendorong permintaan minyak nabati menjelang akhir 2025, memengaruhi harga dan pola pembelian secara global.
Dengan tren pertumbuhan ini, industri alkohol lemak Asia diperkirakan akan memainkan peran semakin strategis dalam peta industri kimia global dalam beberapa tahun ke depan. (T2)
