POPSI Desak Transparansi Data Klaim DSI Soal Penyempitan Gap Harga Ekspor Sawit

oleh -180 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
infosawit
Dok. InfoSAWIT/ Kegiatan Ekspor CPO di Pelabuhan.

InfoSAWIT, JAKARTA – Perkumpulan Organisasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (POPSI) meminta pemerintah membuka data dan metodologi yang menjadi dasar klaim keberhasilan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dalam mempersempit selisih antara harga ekspor sawit yang dilaporkan eksportir dengan harga acuan di pasar internasional.

Dalam keterangan resmi yang diterima InfoSAWIT, Senin (27/7/2026), POPSI menilai pernyataan CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengenai penyempitan gap harga ekspor sejak DSI mulai beroperasi pada 1 Juni 2026 patut diapresiasi sebagai langkah awal keterbukaan pemerintah. Namun, organisasi petani tersebut menegaskan bahwa klaim tersebut belum cukup dijadikan dasar penyusunan kebijakan tanpa didukung data yang dapat diverifikasi secara independen.

Ketua Umum POPSI, Mansuetus Darto, mengatakan publik perlu mengetahui tolok ukur yang digunakan pemerintah dalam menyimpulkan bahwa selisih harga ekspor kini telah menyempit. Menurutnya, pemerintah juga harus menjelaskan apakah perubahan tersebut benar-benar berasal dari perbaikan praktik pelaporan ekspor atau hanya dipengaruhi fluktuasi harga minyak sawit di pasar global.

BACA JUGA: RSPO Dorong Transformasi Sawit Berkelanjutan di China, Konsumsi CSPO Tembus 550 Ribu Ton

“Jika harga ekspor memang sudah semakin mendekati harga acuan internasional, maka pemerintah perlu menjelaskan benchmark yang digunakan, metode perhitungannya, serta faktor yang menyebabkan penyempitan selisih tersebut,” ujar Darto.

Ia menambahkan, DSI yang disebut memanfaatkan data lintas kementerian dan lembaga, termasuk Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, hingga Kementerian ESDM, semestinya dapat mempublikasikan perbandingan data sebelum dan sesudah implementasi kebijakan secara terbuka.

Menurut POPSI, transparansi menjadi penting agar evaluasi terhadap kinerja DSI tidak hanya didasarkan pada pernyataan dalam rapat kabinet maupun konferensi pers, tetapi juga dapat diuji oleh publik dan lembaga independen.

BACA JUGA: Cargill Ajak Pelaku Industri Perkuat Rantai Nilai Kakao Indonesia, Fokus Produktivitas dan Pasar Asia

Selain meminta keterbukaan data, POPSI juga menyoroti rencana pemerintah memperluas fungsi DSI menjadi agen penjual tunggal komoditas ekspor mulai 1 September 2026. Organisasi petani menilai langkah tersebut perlu dikaji secara hati-hati karena berpotensi menambah mata rantai perdagangan sawit yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga di tingkat petani.

POPSI berpendapat bahwa apabila tujuan awal pembentukan DSI adalah memperkuat pengawasan terhadap dugaan under invoicing ekspor, maka perluasan kewenangan menjadi agen penjual sebaiknya dilakukan setelah hasil evaluasi terhadap fungsi pengawasan benar-benar menunjukkan dampak yang terukur.

Dalam pernyataannya, POPSI mengajukan tiga rekomendasi kepada pemerintah. Pertama, membuka seluruh data pembanding antara declared price dan harga indeks internasional beserta metodologi perhitungannya untuk diverifikasi oleh pihak independen. Kedua, menjelaskan apakah penyempitan gap harga ekspor benar-benar berdampak terhadap kenaikan harga tandan buah segar (TBS) yang diterima petani. Ketiga, menunda implementasi DSI sebagai agen penjual tunggal hingga evaluasi tiga bulan pertama dilakukan secara transparan dengan melibatkan asosiasi petani dan seluruh pemangku kepentingan industri sawit.

BACA JUGA: Agrinas Palma Nusantara Jajaki Kemitraan dengan Ashok Leyland, Fokus Modernisasi Logistik dan Hilirisasi Sawit

Darto menegaskan, POPSI mendukung upaya pemerintah memperbaiki tata kelola ekspor dan menutup potensi kebocoran devisa negara. Namun, menurutnya, setiap kebijakan baru harus dibangun di atas data yang terbuka, dapat diuji, dan memberikan manfaat nyata bagi petani sawit.

“Perbaikan tata kelola ekspor harus mengedepankan transparansi dan akuntabilitas. Jangan sampai klaim keberhasilan dijadikan dasar untuk memperluas kewenangan sebuah lembaga sebelum manfaatnya benar-benar dapat dibuktikan, terutama bagi petani sebagai pelaku utama di sektor sawit,” tutup Darto. (T2)

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com