InfoSAWIT, JAKARTA – Sebanyak 21 penerima Nobel, Turing Award, ilmuwan, akademisi, dan tokoh dunia mengunjungi Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di Lampung pada 27–28 Agustus 2026. Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan biodiversitas Indonesia sekaligus mempertemukan para pemikir dunia dengan pengalaman konservasi yang telah berjalan selama tiga dekade.
Dilansir InfoSAWIT dari CNN Indonesia, Kamis (10/9/2026), para tokoh dunia tersebut diterima Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Siti Hediati Soeharto, yang menjadi tuan rumah kegiatan.
TWNC dipilih karena memiliki bentang alam yang beragam serta pengalaman panjang dalam perlindungan ekosistem. Kawasan ini dikelola Artha Graha Peduli (AGP) sejak 1996 dan kemudian menjadi bagian dari program lingkungan AGP melalui kerja sama dengan Kementerian Kehutanan.
TWNC mencakup sekitar 48.153 hektare kawasan hutan dan 14.089 hektare kawasan konservasi laut. Ekosistem di dalamnya meliputi hutan hujan tropis dataran rendah, hutan pantai, mangrove, danau, rawa air tawar, hingga hutan sekunder.
Tambling, Wujud Kepedulian Tomy Winata terhadap Lingkungan
Di balik perjalanan panjang konservasi Tambling terdapat peran pengusaha sekaligus pendiri Artha Graha Peduli, Tomy Winata. Sebagai pengusaha, kepeduliannya terhadap lingkungan diwujudkan tidak hanya melalui kegiatan sosial, tetapi juga melalui perhatian terhadap perlindungan hutan, satwa liar, dan ekosistem laut.
Tambling Wildlife Nature Conservation merupakan salah satu bentuk nyata komitmen tersebut. Kawasan konservasi di ujung selatan Pulau Sumatra itu telah dikelola dan didukung pendanaannya oleh Artha Graha Peduli sejak 1996.
BACA JUGA: Kebun Sawit Ditertibkan, SPKS Pertanyakan Siapa Penerima Manfaat Ekonomi
Langkah tersebut menunjukkan bahwa aktivitas dunia usaha dapat berjalan beriringan dengan tanggung jawab terhadap lingkungan. Pengelolaan kawasan tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan tutupan hutan, tetapi juga mencakup perlindungan satwa, penelitian biodiversitas, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan pendekatan konservasi yang berkelanjutan.
Dalam sejumlah kesempatan, Tomy Winata juga secara terbuka menyampaikan ketertarikannya terhadap konservasi. Dalam wawancara dengan Antara pada 2015, Tomy menyebut kecintaannya terhadap konservasi, alam, dan satwa menjadi salah satu alasan dirinya terlibat dalam pengelolaan TWNC.
Komitmen tersebut juga terlihat dari pengembangan berbagai program konservasi di Tambling, termasuk rehabilitasi harimau Sumatra, penelitian dan pemantauan biodiversitas, serta keterlibatan masyarakat sekitar. Situs TWNC mencatat kawasan tersebut kini menjadi ruang bagi kegiatan konservasi satwa, riset, pengembangan masyarakat, dan ekowisata yang bertanggung jawab.
BACA JUGA: Sawit Watch Soroti Syarat 20 Tahun dalam Surat Edaran Perlindungan Masyarakat di Kawasan Hutan
Dengan demikian, kiprah Tomy Winata di bidang lingkungan dapat dilihat sebagai bagian dari upaya membangun model pengelolaan kawasan yang mempertemukan kepentingan konservasi dengan keterlibatan masyarakat dan dukungan dunia usaha.
Ramos-Horta Soroti Kepemimpinan Tomy Winata
Pengalaman tersebut turut mendapat perhatian Presiden Timor Leste sekaligus peraih Nobel Perdamaian 1996, José Ramos-Horta.
Dalam kunjungannya ke Tambling, Ramos-Horta secara khusus menyoroti aspek kepemimpinan dalam pengelolaan kawasan konservasi. Ia menyebut kepemimpinan Tomy Winata sebagai salah satu hal yang dapat dipelajari dari perjalanan Tambling selama tiga dekade.
BACA JUGA:Harga CPO KPBN Inacom Turun pada Rabu (8/9), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Melemah
“Satu hal yang bisa dipelajari adalah kepemimpinan. Ini adalah kepemimpinan Tomy Winata. Senang sekali bahwa pemerintah dan masyarakat memberikan tanggung jawab untuk mengurus kawasan ini selama 30 tahun,” kata Ramos-Horta saat menghadiri kegiatan pelepasliaran tukik.
Namun, menurut Ramos-Horta, keberhasilan konservasi tidak cukup hanya mengandalkan pengelola kawasan. Masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah konservasi juga harus menjadi bagian dari proses tersebut.
“Anda tidak bisa melakukan apa-apa tanpa berhubungan dengan rakyat yang tinggal di sini. Mereka harus merasakannya, percaya padanya,” ujarnya.
BACA JUGA: Karhutla Sumatra dan Kalimantan, TPOLS Soroti Keselamatan Buruh Sawit di Tengah Kepulan Asap
Pandangan itu menegaskan bahwa perlindungan lingkungan membutuhkan kolaborasi. Masyarakat lokal memiliki posisi penting karena berinteraksi langsung dengan kawasan dan sumber daya alam di sekitarnya.
Tambling Berpotensi Jadi Laboratorium Hidup
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto menilai pengalaman Tambling selama tiga dekade menunjukkan bahwa konservasi membutuhkan komitmen jangka panjang.
“Konservasi bukan sebuah proyek pendek, tetapi sebuah komitmen panjang untuk generasi ke depan,” kata Siti.
