InfoSAWIT, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan tidak hanya menimbulkan persoalan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Dampak bencana tersebut juga dirasakan langsung para buruh perkebunan kelapa sawit yang tetap bekerja ketika kualitas udara memburuk.
Jaringan Transnational Palm Oil Labour Solidarity (TPOLS) menyoroti kondisi keselamatan pekerja perkebunan sawit yang dinilai belum menjadi prioritas dalam penanganan karhutla. Dalam sejumlah laporan yang dihimpun jaringan tersebut, buruh disebut masih diminta bekerja di tengah kepulan asap yang bahkan mengganggu jarak pandang.
Dilansir InfoSAWIT dari keterangan resmi diterima Kamis (10/9/2026), kondisi tersebut terjadi di sejumlah titik perkebunan sawit di Kalimantan dan Sumatra. Para buruh mengungkapkan bahwa pekerjaan tetap berlangsung meski asap telah mengganggu pernapasan dan aktivitas di lapangan.
Salah seorang buruh perkebunan sawit di Kalimantan Tengah, Damianus Fansi, mengatakan perusahaan hanya memberikan masker tipis kepada pekerja. Menurut dia, dalam satu minggu buruh hanya memperoleh empat masker dan tidak terdapat pembatasan jam kerja.
“Perusahaan hanya membagikan masker tipis. Itu pun dalam satu minggu hanya mendapatkan 4 masker. Dan tidak ada pembatasan jam kerja. Semua buruh bekerja secara normal,” ujar Damianus.
Kondisi serupa juga disampaikan Agil, ketua serikat pekerja di Kalimantan Barat. Ia menyebut asap membuat buruh mengalami kesulitan bernapas, sementara kebutuhan terhadap masker dengan perlindungan lebih baik belum terpenuhi.
BACA JUGA: Agrinas Palma Nusantara Gelar Pasar Rakyat dan Cek Kesehatan Gratis di Labuhanbatu Utara
“Asap membuat kami sesak napas. Di tengah-tengah kami sesak napas kami kesulitan mencari masker yang tebal dan tetap harus bekerja,” ujar Agil.
Buruh Sempat Terjebak Api dan Asap
Risiko keselamatan pekerja bahkan tidak hanya berkaitan dengan paparan asap. Dalam salah satu peristiwa di Palangka Raya, sebanyak 12 buruh perkebunan sawit disebut sempat terjebak oleh api dan asap sebelum akhirnya berhasil dievakuasi.
TPOLS menilai situasi tersebut menunjukkan bahwa perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja perlu menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla di wilayah perkebunan.
BACA JUGA: BRIN Dorong Diversifikasi Produk Hilir Sawit Berbasis Riset dan Inovasi
Kamil dari Kalimantan Barat juga mengungkapkan masih minimnya tindak lanjut perusahaan terhadap kebutuhan dasar pekerja yang terdampak kondisi udara buruk.
Menurutnya, bantuan berupa masker, air bersih, oksigen, hingga obat-obatan masih belum tersedia secara memadai.
Persoalan tersebut menjadi semakin serius ketika kegiatan di lapangan tetap berjalan meskipun kualitas udara telah memburuk.
BACA JUGA: PCS 2026 Hasilkan 13 Tuntutan, Dorong Perubahan Arah Konservasi Berbasis Rakyat
TPOLS mendorong perusahaan agar segera menghentikan sementara pekerjaan, baik di dalam maupun luar ruangan, apabila kondisi karhutla membahayakan keselamatan pekerja. Evakuasi, perlindungan kesehatan, serta pemenuhan hak-hak buruh dinilai harus ditempatkan sebagai prioritas.
Dampak Karhutla Meluas ke Kehidupan Keluarga Buruh
Dampak karhutla juga tidak berhenti di tempat kerja. Perempuan dan keluarga masyarakat terdampak turut menghadapi tekanan akibat terganggunya sumber penghidupan dan aktivitas ekonomi.
Irene Natalia Lambung, Ketua BEK SP Mamut Menteng, mengatakan perempuan menghadapi beban perawatan yang lebih besar ketika bencana terjadi. Pada saat yang sama, pendapatan keluarga ikut berkurang akibat lahan pertanian yang terbakar.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 9–15 September 2026 Naik Rp64,62/Kg, Umur 9 Tahun Rp3.943,46/Kg
“Perempuan yang saat ini menanggung beban perawatan yang lebih dari biasanya, ditambah penghasilan secara ekonomi menjadi berkurang akibat karhutla yang membakar lahan pertanian,” ujar Irene.
Menurut dia, perempuan terpaksa menunda aktivitas mengolah lahan dan harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan ekonomi serta pangan keluarga.
Tekanan juga muncul dari sisi psikologis. Kekhawatiran terhadap keselamatan keluarga, kemungkinan kebakaran susulan, serta masuknya hewan dari kawasan hutan ke permukiman menambah beban yang harus ditanggung perempuan selama karhutla.
