Menurutnya, Tambling memiliki peluang untuk berkembang menjadi pusat pembelajaran dan penelitian yang mempertemukan konservasi dengan berbagai disiplin ilmu.
Ia bahkan melihat kawasan tersebut dapat menjadi “laboratorium hidup” yang mempertemukan alam dengan sains, teknologi, pendidikan, dan hubungan internasional.
“Tambling bisa menjadi laboratorium hidup, di mana alam bertemu dengan sains, teknologi, pendidikan dan hubungan internasional,” ujarnya.
Kehadiran para ilmuwan dan tokoh dunia dinilai dapat memperluas pertukaran pengetahuan mengenai bagaimana sains dan teknologi dapat digunakan untuk memperkuat perlindungan biodiversitas, menghadapi perubahan iklim, serta mendukung pembangunan berkelanjutan.
Harimau Sumatra Jadi Salah Satu Fokus Konservasi
Salah satu program yang diperkenalkan kepada para tamu adalah upaya perlindungan harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), satwa yang berstatus terancam kritis.
Melalui program rehabilitasi, harimau yang diselamatkan dari kondisi berbahaya atau konflik ditangani sebelum mendapatkan kesempatan untuk kembali ke habitat alaminya. Program rehabilitasi dan pelepasliaran harimau menjadi salah satu kegiatan utama konservasi di Tambling.
BACA JUGA: Agrinas Palma Nusantara Gelar Pasar Rakyat dan Cek Kesehatan Gratis di Labuhanbatu Utara
Perlindungan satwa tersebut tidak berdiri sendiri. Keberadaan harimau sangat bergantung pada kondisi ekosistem tempatnya hidup. Karena itu, menjaga habitat berarti sekaligus mempertahankan hutan, sumber air, dan rantai kehidupan berbagai spesies.
Hutan juga memiliki fungsi ekologis yang lebih luas, termasuk menyimpan karbon, mengatur tata air, dan menjadi penyangga kehidupan masyarakat di sekitar kawasan.
21 Tokoh Dunia Hadir di Tambling
Kunjungan ke Tambling diikuti tokoh-tokoh dari berbagai bidang, mulai dari penerima Nobel, ilmu komputer, kriptografi, astrofisika, ekonomi, pertanian, hingga ilmu lingkungan.
Mereka adalah:
- José Ramos-Horta – Nobel Peace Prize 1996.
- Frances H. Arnold – Nobel Chemistry 2018.
- Tim Hunt – Nobel Physiology or Medicine 2001.
- Benjamin List – Nobel Chemistry 2021.
- Robert C. Merton – Nobel Economic Sciences 1997.
- Konstantin Novoselov – Nobel Physics 2010.
- Frederick Jay Ramsdell – Nobel Physiology or Medicine 2025.
- James A. Robinson – Nobel Economic Sciences 2024.
- Brian Paul Schmidt – Nobel Physics 2011.
- David Beasley – Nobel Peace Prize/World Food Programme 2020.
- Jack Joseph Dongarra – Computer Science/Mathematics 2021.
- Martin Edward Hellman – Computer Science/Cryptography 2015.
- Whitfield Diffie – Computer Science/Cryptography 2015.
- Richard S. Sutton – Computer Science 2024.
- Torsten Hoefler – Computer Science 2025.
- Sara Seager – Astrophysics 2024.
- Howard Yana Shapiro – Agriculture & Environmental Sciences 2009.
- Kailash Satyarthi – Nobel Peace Prize 2014.
- Leander Heldring – Economic Sciences 2024.
- Peter Badge – Nobel Photographer 2000.
- Gilles Brassard – Computer Science 2025.
Kehadiran tokoh-tokoh dengan latar belakang keilmuan yang beragam membuka peluang pertukaran gagasan mengenai hubungan antara konservasi, teknologi, ekonomi, pendidikan, perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan.
Salah satu perwakilan rombongan, Laura Anne, menilai Tambling memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kawasan konservasi pada umumnya.
Menurutnya, Tambling bukan sekadar taman atau tempat untuk melihat satwa. Kawasan tersebut dinilai sebagai ekosistem alami tempat satwa, burung, ikan, dan berbagai kehidupan lainnya masih berlangsung dalam keseimbangan.
BACA JUGA: BRIN Dorong Diversifikasi Produk Hilir Sawit Berbasis Riset dan Inovasi
“Tantangannya adalah menjaga keunikan ini tanpa kehilangan keasliannya,” ujar Laura.
Ia menilai keberadaan kawasan seperti Tambling penting bagi setiap negara agar masyarakat memahami nilai kekayaan alam sebelum mengalami kerusakan. Mempertahankan ekosistem yang masih alami, menurutnya, jauh lebih mudah dibandingkan memulihkan lingkungan yang telah rusak.
Kunjungan 21 penerima Nobel, ilmuwan, akademisi, dan tokoh dunia tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi agenda untuk memperkenalkan biodiversitas Indonesia. Lebih jauh, Tambling menjadi ruang pertemuan antara pengalaman konservasi, ilmu pengetahuan, dan gagasan mengenai masa depan lingkungan.
BACA JUGA: PCS 2026 Hasilkan 13 Tuntutan, Dorong Perubahan Arah Konservasi Berbasis Rakyat
Perjalanan pengelolaan Tambling selama tiga dekade juga menunjukkan bahwa tanggung jawab menjaga lingkungan dapat melibatkan berbagai unsur, termasuk pemerintah, masyarakat, ilmuwan, dan dunia usaha.
Bagi Tomy Winata dan Artha Graha Peduli, keberadaan TWNC menjadi salah satu bentuk keterlibatan dunia usaha dalam menjaga hutan dan keanekaragaman hayati Indonesia. Sementara bagi komunitas ilmiah dan tokoh dunia yang berkunjung, Tambling menjadi contoh lapangan untuk melihat bagaimana konservasi dapat dikembangkan melalui komitmen jangka panjang dan kolaborasi.
Prinsip tersebut sejalan dengan pesan pendiri TWNC: “Kita jaga alam, alam jaga kita.” (T1)
