InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Dewan Negara-Negara Produsen Minyak Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/CPOPC) terus memperkuat pemberdayaan petani sawit swadaya sebagai bagian dari strategi membangun industri sawit yang lebih produktif, berkelanjutan, dan tangguh. Setelah sukses dilaksanakan di Indonesia, program pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) kini diperluas ke Kudat, Sabah, Malaysia, dengan melibatkan puluhan petani sawit independen.
Dilansir InfoSAWIT dari kanal media sosial CPOPC, Senin (27/7/2026), sebanyak 56 petani sawit swadaya mengikuti pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam menerapkan praktik budidaya berkelanjutan sekaligus memperbaiki produktivitas kebun.
Program tersebut menghadirkan tenaga ahli dari PT Riset Perkebunan Nusantara dan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang memberikan materi mengenai prinsip-prinsip Good Agricultural Practices (GAP). Pelatihan juga mendapat dukungan dari perwakilan Ministry of Plantation and Commodities Malaysia, MPOB, serta Koperasi Penanam Sawit Mampan (KPSM) sebagai bentuk kolaborasi lintas lembaga dalam memperkuat sektor perkebunan sawit di kawasan.
Selain sesi teori di dalam kelas, peserta memperoleh pengalaman langsung melalui praktik lapangan. Kegiatan tersebut difokuskan pada penerapan teknik budidaya yang berkelanjutan sekaligus pengenalan metode pengendalian penyakit Ganoderma, salah satu ancaman utama yang selama ini menjadi penyebab penurunan produktivitas tanaman kelapa sawit di berbagai negara produsen.
Menurut pihak CPOPC, kombinasi pembelajaran teori dan praktik di lapangan diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi budidaya yang lebih efisien, sehingga petani dapat meningkatkan hasil panen sekaligus menjaga keberlanjutan usaha perkebunan mereka.
Perluasan program ke Malaysia juga menjadi bagian dari upaya CPOPC mempererat kerja sama antarnegara produsen minyak sawit melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan inovasi di bidang budidaya. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menghadapi berbagai tantangan industri, mulai dari produktivitas, perubahan iklim, hingga tuntutan pasar global terhadap praktik perkebunan yang lebih berkelanjutan.
BACA JUGA: RSPO Dorong Transformasi Sawit Berkelanjutan di China, Konsumsi CSPO Tembus 550 Ribu Ton
CPOPC menegaskan bahwa pemberdayaan petani sawit swadaya tetap menjadi salah satu prioritas utama organisasi. Melalui peningkatan kompetensi, penguatan kolaborasi regional, dan penerapan praktik pertanian yang berkelanjutan, petani diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat ketahanan usaha, serta menciptakan penghidupan yang lebih baik bagi keluarga dan komunitas perkebunan di masa depan. (T2)
