Harga fisik CPO untuk pengiriman Mei ke Pantai Barat India tercatat sebesar USD 1.065/mt pada 23 April, sementara pengiriman Juni ditawarkan USD 15/mt lebih rendah. Platts menilai harga CPO CFR Pantai Barat India sebesar USD 1.055/mt, turun 10,21% dari awal bulan.
Produksi Sawit Meningkat
Di sisi pasokan, peningkatan produksi di Malaysia — produsen minyak sawit terbesar kedua dunia — diperkirakan akan terus menekan harga global. Data dari Southern Peninsular Palm Oil Millers Association menunjukkan kenaikan produksi sebesar 9,11% pada periode 1–20 April dibandingkan Maret, dengan peningkatan rendemen 0,27% dan hasil panen 7,69% lebih tinggi.
Sementara itu, pasokan dari Indonesia, eksportir minyak sawit terbesar dunia, juga dilaporkan stabil dan kuat. “Saat ini mayoritas minyak sawit dari Indonesia dikirim ke India,” ujar salah satu pelaku pasar.
BACA JUGA: Sidang Uji UU P3H: Negara Tegaskan Sertifikat Tanah di Kawasan Hutan Tak Otomatis Dapat Ganti Rugi
Indonesia dan Malaysia secara bersama menyumbang sekitar 85% dari total pasokan minyak sawit global.
Permintaan dari China Masih Lamban
Berbeda dengan India, permintaan dari China, importir minyak sawit terbesar kedua, masih lesu. “Stok minyak nabati di China memang rendah, dan mereka tetap melakukan restok untuk memenuhi kebutuhan pokok, tapi permintaannya sangat terbatas,” kata seorang pedagang.
Pelaku pasar lain mengungkapkan bahwa pembelian China saat ini masih sangat berhati-hati dan hanya dilakukan sesuai kebutuhan, tanpa peningkatan signifikan dalam volume impor.
Dengan harga yang kompetitif dan produksi yang meningkat, minyak sawit kembali menunjukkan daya saingnya di pasar global, khususnya di India. Namun, dinamika pasar masih akan dipengaruhi oleh respons pembeli utama lainnya seperti China dan potensi gejolak kebijakan perdagangan global. (T2)
