InfoSAWIT, JAKARTA – Di level kebun, cerita menjadi lebih rumit. Lantaran harga pupuk melonjak hingga 150 persen pada Maret 2026, sebagian dipicu gangguan suplai bahan baku akibat konflik di Timur Tengah. Biaya produksi naik tajam, margin petani tergerus, dan ancaman penurunan produktivitas mulai muncul.
Produksi CPO Indonesia memang masih diproyeksikan tumbuh moderat ke kisaran 48,8–49,8 juta ton. Namun di balik angka itu, muncul kekhawatiran soal stagnasi produktivitas. Sejumlah analis bahkan memperkirakan potensi kehilangan produksi 2–5 juta ton bila persoalan pemupukan dan penertiban lahan ilegal berlarut.
Ini menciptakan kontradiksi struktural, harga tinggi belum tentu berarti kesejahteraan meningkat, sebab biaya tumbuh lebih cepat dibanding pendapatan di level hulu.
BACA JUGA: Airlangga Dorong Riset Sawit Perkuat Implementasi B50 dan Hilirisasi Bernilai Tambah
Pasar yang Menunggu, Bukan Menyerbu
Menariknya, volatilitas tinggi tidak otomatis membuat trader agresif. Justru sebaliknya.
Di tender harian KPBN, banyak pelaku pasar memilih wait and see. Mereka membaca pasar secara oportunistik, tetapi enggan terlalu cepat mengunci volume. Alasannya jelas, volatilitas harga yang tinggi beririsan dengan ketidakpastian tarif levy dan duty bulan berikutnya. Margin bisa berubah hanya karena satu keputusan fiskal.
Dalam atmosfer seperti ini, kehati-hatian menjadi strategi.
BACA JUGA: Wilmar Ungkap Kunci Keunggulan Perkebunan Masa Depan: SDM dan Budaya Kerja Jadi Penentu
Meski begitu, mekanisme price discovery di KPBN dinilai masih bekerja relatif efisien. Tender tetap terserap, baik parsial maupun penuh. Intervensi pemerintah melalui DMO, DPO, dan mandatori biodiesel memang menciptakan “dualisme”—menjaga stabilitas domestik, namun pada saat yang sama mempersempit fleksibilitas pasar.
Tetapi pasar sawit Indonesia, seperti yang berkali-kali terbukti, punya daya lenting yang tinggi.
Dalam horizon jangka pendek, KPBN memproyeksikan harga CPO masih akan bertahan kuat hingga akhir semester pertama 2026.
BACA JUGA: RSPO Dorong Transformasi Sawit Berkelanjutan di China, Konsumsi CSPO Tembus 550 Ribu Ton
Kisaran teknikal di Bursa Malaysia diperkirakan berada pada support RM 4.350 per ton dan resistance RM 4.750 per ton. Sementara harga domestik di KPBN diperkirakan bergerak moderat dalam rentang Rp 14.500–Rp 16.500 per kilogram.
Namun memasuki semester kedua, arah angin diperkirakan berubah. Produksi berpotensi pulih, ketegangan geopolitik mungkin mereda, dan pasar mulai bergerak menuju normalisasi. (T2)
