Siti dan Uli menyusul, masing-masing menunjukkan karakter berbeda. Siti berlari keluar penuh semangat, sementara Uli memilih langkah pelan, mencermati setiap sudut lingkungan barunya. Terakhir, Sie-Sie, pejantan dewasa dengan bantalan pipi khas, menunjukkan sedikit agresi saat dilepas—reaksi wajar dari stres perjalanan panjang. Untungnya, pelepasliaran tetap berjalan aman.
Sore harinya, di Camp Nles Mamse, seluruh tim berkumpul untuk evaluasi. Semua tahap—dari keberangkatan hingga pelepasan—dibedah. Diskusi berlangsung serius, membahas tantangan di lapangan hingga rekomendasi untuk pelepasan berikutnya.
Di sinilah peran penting Tim Pemantauan Pascapelepasliaran (PRM) dimulai. Selama satu bulan ke depan, mereka akan mengikuti pergerakan keenam orangutan, memastikan adaptasi berjalan baik sebelum akhirnya mereka menjelajahi hutan lebih dalam.
BACA JUGA: Sidang Uji UU P3H: Negara Tegaskan Sertifikat Tanah di Kawasan Hutan Tak Otomatis Dapat Ganti Rugi
Pelepasliaran ini bukan hanya keberhasilan teknis. Ia menjadi pengingat kuat bahwa kerja keras, kolaborasi, dan tekad adalah kunci menyelamatkan spesies langka ini dari ancaman kepunahan.
Kisah Mori, Bugis, Mikhayla, Siti, Uli, dan Sie-Sie kini menjadi bagian dari cerita panjang perjuangan menyelamatkan orangutan. Dan di bawah kanopi Hutan Kehje Sewen, harapan itu terus tumbuh—dalam setiap langkah, dalam tiap genggaman dahan, dalam kebebasan yang baru saja mereka raih kembali. (T2)
