InfoSAWIT, JAKARTA – Pemerintah menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam memperkuat transformasi industri kelapa sawit nasional menuju sektor berbasis inovasi, keberlanjutan, dan nilai tambah tinggi. Institut Pertanian Bogor (IPB) dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat pengembangan riset dan hilirisasi sawit nasional.
Penegasan tersebut disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, saat menerima delegasi IPB yang dipimpin Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, Prof. Sudrajat, di Gedung Bappenas, Jakarta, Senin (25/5). Pertemuan tersebut membahas sejumlah agenda strategis, mulai dari pengelolaan lahan, penguatan pusat studi sawit, hingga pengembangan model hilirisasi yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor industri.
Menurut Rachmat, pengembangan sawit nasional kini memasuki fase baru yang tidak lagi dapat bergantung pada ekspor bahan mentah semata. Pemerintah, kata dia, mendapat arahan langsung dari Presiden untuk mempercepat hilirisasi sawit melalui kolaborasi lintas lembaga.
BACA JUGA: Kejagung Tetapkan Eks Komisioner Ombudsman Yeka Hendra Fatika Tersangka Kasus CPO
“Kami semua mendapat arahan langsung dari Presiden. Khusus sawit ini, paling tidak ada tiga institusi yang mendapat arahan, yaitu kementerian yang menangani lahan dan pendidikan tinggi, kemudian Agrinas, dan saya sebagai Kepala Bappenas, karena kami mendapat tugas untuk menangani hilirisasi sawit. Dari sinilah sebenarnya IPB harus berhubungan dan mengambil peran strategis,” ujar Rachmat dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Jumat (29/5/2026).
Sawit Tidak Lagi Hanya Soal CPO dan TBS
Rachmat menilai industri sawit Indonesia memiliki peluang besar untuk menghasilkan berbagai produk bernilai tambah tinggi melalui dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, hilirisasi perlu diarahkan pada pengembangan produk inovatif yang mampu meningkatkan daya saing nasional sekaligus memperluas manfaat ekonomi.
Ia mencontohkan bahwa satu tandan sawit tidak hanya berhenti pada produksi crude palm oil (CPO) maupun tandan buah segar (TBS), tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai produk industri dan kebutuhan konsumen modern.
BACA JUGA: 139 PKS Turunkan Harga TBS Sawit, Kementan: Harga TBS Sawit Harus Kembali Sesuai Acuan CPO
“Sudah waktunya kita tidak hanya menjual CPO atau TBS saja. Satu tandan sawit itu bisa menjadi berbagai produk bernilai tinggi. Bisa menjadi lipstik alami, kapsul beta karoten, material komposit, sampai produk industri lainnya. Sawit itu sangat eksotis kalau diolah dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu saya ingin pusat studi sawit di IPB dilanjutkan dan diperkuat, meskipun dimulai dari skala kecil, karena dampaknya nanti akan sangat monumental,” ungkap Menteri dalam pertemuan tersebut.
Pernyataan tersebut mempertegas arah pembangunan sawit nasional yang tidak hanya berorientasi pada volume produksi, tetapi juga pada penguatan inovasi dan industrialisasi berbasis riset.
Kolaborasi Kampus, Pemerintah, dan Industri
Dalam pertemuan itu, pemerintah juga mendorong IPB untuk terlibat dalam penguatan rantai pasok dan pengembangan kelembagaan ekonomi desa melalui program Koperasi Desa Merah Putih.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Periode IV-Mei 2026 Naik Rp7,02 per Kg
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku industri dipandang menjadi kunci agar pengembangan sawit dapat memberikan manfaat lebih luas, termasuk bagi masyarakat dan petani di daerah sentra perkebunan.
Sementara itu, Prof. Sudrajat menjelaskan bahwa IPB tengah menyiapkan sejumlah skema kerja sama untuk mendukung pengelolaan kebun sawit sekaligus membangun ekosistem pendidikan berbasis industri sawit berkelanjutan.
Salah satu model yang dipertimbangkan adalah pengelolaan kebun secara profesional dengan melibatkan praktisi industri berpengalaman. Skema tersebut nantinya tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga diintegrasikan dengan pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 27 Mei – 2 Juni 2026 Turun Rp147,79 per Kg
Pertemuan antara Bappenas dan IPB ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi pemerintah dan dunia akademik dalam mendorong transformasi industri sawit Indonesia menuju model pembangunan yang lebih inovatif, berkelanjutan, dan memiliki nilai tambah tinggi. (T2)
