InfoSAWIT, BENGKULU – Ketua DPRD Provinsi Bengkulu, Sumardi, meminta perusahaan pengolahan kelapa sawit atau pabrik crude palm oil (CPO) tetap memperhatikan kesejahteraan petani sawit di tengah penurunan harga tandan buah segar (TBS) yang dikeluhkan petani dalam beberapa waktu terakhir.
Permintaan tersebut disampaikan menyusul keluhan dari Aliansi Petani Sawit Provinsi Bengkulu terkait anjloknya harga TBS sawit. Pemerintah Provinsi Bengkulu juga diketahui telah menggelar rapat untuk membahas kondisi harga sawit yang menurun dan dampaknya terhadap pendapatan petani.
Sumardi menegaskan, harga TBS sawit sebaiknya dipertahankan pada level minimal Rp2.800 per kilogram agar petani masih memiliki ruang keuntungan yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
BACA JUGA: Bumitama Mendorong Traceability Rantai Pasokan Sawit
Menurutnya, angka tersebut dinilai masih mampu menjaga keseimbangan antara biaya produksi yang dikeluarkan petani dengan hasil penjualan yang diterima.
“Harapan kita, pemilik pabrik TBS yang memproduksi CPO tetap memperhatikan nasib petani dengan mempertahankan harga TBS minimal Rp2.800 per kilogram,” kata Sumardi, dilansir InfoSAWIT dari Tibunnews Bengkulu, Selasa (26/5/2026).
Ia menilai, penurunan harga yang terlalu tajam berpotensi memicu keresahan di kalangan petani sawit. Bahkan, kondisi itu dapat membuat petani ragu menentukan waktu panen karena khawatir hasil penjualan tidak sebanding dengan biaya operasional di kebun.
BACA JUGA: Disbun Riau Terbitkan Edaran, Larang PKS Turunkan Harga TBS Sawit Secara Sepihak
“Jangan sampai petani merasa cemas, waswas, bahkan bingung apakah buah sawit mereka akan dipanen atau tidak,” ujarnya.
DPRD Soroti Pentingnya Kemitraan Sawit
Selain meminta harga TBS tetap terjaga, Sumardi juga menekankan pentingnya hubungan kemitraan yang sehat antara perusahaan sawit dan petani di Bengkulu.
Menurutnya, kolaborasi yang baik menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah sekaligus menciptakan situasi yang kondusif di lingkungan perkebunan dan pabrik pengolahan sawit.
BACA JUGA: Dugaan Manipulasi Harga CPO Lewat Singapura, Menkeu: Tutup Kebocoran via DSI
Ia menegaskan, perusahaan dan petani pada dasarnya memiliki kepentingan yang sama, yakni menjaga keberlanjutan usaha dan meningkatkan kesejahteraan.
“Pabrik ingin usahanya berjalan baik, petani juga ingin hidup dengan layak. Karena itu harus ada kemitraan dan saling menjaga,” ungkapnya.
Sumardi berharap seluruh pihak dapat menahan diri dan menghindari kebijakan yang berpotensi merugikan petani sawit di Bengkulu, terutama ketika harga komoditas sedang mengalami tekanan.
