Pertanian mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 28,56 persen, sementara industri pengolahan naik 15,75 persen. Sebaliknya, ekspor pertambangan merosot 24,43 persen seiring lesunya permintaan batu bara global. Ekspor migas juga turun 16,11 persen.
“Pelemahan harga batu bara di pasar internasional menjadi faktor utama turunnya ekspor pertambangan,” jelas Mendag.
Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi pasar utama bagi ekspor nonmigas Indonesia, dengan nilai gabungan mencapai US$ 93,33 miliar, atau 41,84 persen dari total ekspor nonmigas nasional.
Dengan surplus yang terus berlanjut dan ekspor yang tumbuh positif, pemerintah menilai fundamental perdagangan Indonesia tetap solid di tengah ketidakpastian global. Kinerja nonmigas yang semakin kuat dipandang mampu memberikan bantalan bagi perekonomian nasional, terutama dalam menjaga cadangan devisa dan stabilitas nilai tukar. (T2)
