InfoSAWIT, JAKARTA — Tata kelola perkebunan sawit yang berkelanjutan dinilai semakin mendesak untuk diterapkan, terutama di tengah meningkatnya sorotan terhadap dampak lingkungan industri sawit. Guru Besar Kebijakan Agribisnis IPB University, Bayu Krisnamurthi, menegaskan bahwa keberlanjutan tidak hanya menjadi pilihan, tetapi keharusan untuk meminimalkan risiko jangka panjang.
Berbicara dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu, Bayu menjelaskan bahwa persoalan kunci dalam pembukaan kawasan hutan menjadi kebun sawit bukan semata apakah diperbolehkan atau tidak, melainkan bagaimana proses itu dijalankan dan bagaimana kebun dikelola setelahnya.
“Faktor kunci dalam pembukaan hutan menjadi kebun sawit adalah bagaimana prosesnya dan setelah itu bagaimana cara mengelolanya sehingga manfaatnya dapat dioptimalkan, risiko yang menyertainya dapat diminimalkan,” ujarnya, dailansir InfoSAWIT dari Antara, Jumat (12/12/2025).
BACA JUGA: Limbah Cair Sawit Resmi Diakui ICAO Bisa Sebagai Bahan Baku Bioavtur Pesawat
Sawit Bukan Hutan, tetapi Tetap Punya Fungsi Ekologis
Bayu menyadari adanya perdebatan panjang terkait posisi sawit dalam ekosistem. Ia menegaskan bahwa kebun sawit bukan hutan alam tropis, namun sebagai komoditas strategis, sawit tetap memiliki fungsi ekologis tertentu yang tidak boleh diabaikan.
“Di sini diperlukan melihat kelapa sawit secara proporsional sebagai komoditas strategis yang memberikan manfaat ekonomi besar, namun memiliki batas ekologis yang jelas,” katanya.
Menurut mantan Wakil Menteri Perdagangan periode 2011–2014 itu, pohon sawit mampu tumbuh hingga puluhan tahun dan menyerap karbon dioksida melalui fotosintesis. Ia menambahkan, sawit juga menyimpan karbon dalam batang, serasah, hingga buahnya. Meski begitu, kapasitas ekologisnya tetap tidak bisa disamakan dengan hutan tropis yang memiliki struktur berlapis dan keragaman hayati yang jauh lebih kompleks.
BACA JUGA: Stok Sawit Malaysia Tembus Level Tertinggi Sejak 2019, Harga Berpotensi Tertekan
“Kebun sawit tidak sama dengan hutan alam dalam keanekaragaman hayatinya, dalam kemampuan ekologisnya, dalam kemampuan hidrologisnya,” tegas Bayu.
Kontribusi Sawit Tetap Vital bagi Ekonomi Nasional
Di sisi lain, Bayu menggarisbawahi bahwa manfaat ekonomi kelapa sawit bagi masyarakat dan negara tidak dapat dipinggirkan. Industri ini, menurutnya, menjadi tulang punggung ekonomi nasional, dengan luas perkebunan mencapai lebih dari 16 juta hektare. Sektor ini mempekerjakan sekitar 16–20 juta orang, baik secara langsung maupun tidak langsung.




















