Menjaga Sawit Tetap Produktif Tanpa Merusak Alam, Peran Sertifikasi bagi Petani Kecil

oleh -4.779 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Agroecology Research Officer WWF Indonesia, Eka Purnamasari.

InfoSAWIT, JAKARTA – Petani sawit kecil di Indonesia umumnya mengelola lahan seluas dua hingga lima hektare dengan pola budidaya yang diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan yang digunakan cenderung sederhana dan berbasis pengalaman lapangan, namun justru menjadi fondasi penting dalam pengelolaan kebun sawit rakyat.

Hal tersebut disampaikan Agroecology Research Officer WWF Indonesia, Eka Purnamasari, dalam Small Talk (Smallholder Talk) Fortasbi dan dikutip InfoSAWIT, Selasa (30/12/2025). Menurutnya, pendekatan tradisional petani kecil perlu dipadukan dengan prinsip sertifikasi minyak sawit berkelanjutan agar produksi tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas lingkungan.

“Pada dasarnya, sertifikasi sawit berkelanjutan adalah panduan agar petani tetap bisa melakukan budidaya kelapa sawit, tetapi sekaligus menjaga lingkungan,” ujarnya.

BACA JUGA: Harga Minyak Sawit, Senin (29/12) Tertekan Stok Tinggi, Reli Jangka Pendek Terancam

Ia menjelaskan, sertifikasi menempatkan sejumlah komponen utama sebagai pegangan. Di antaranya memastikan kebun sawit berasal dari wilayah yang clean and clear, bukan kawasan hutan, serta memiliki status kepemilikan lahan yang jelas. Aspek ini menjadi fondasi penting dalam menjamin keberlanjutan produksi sekaligus kepatuhan terhadap regulasi.

Dalam praktik budidaya, petani juga diperkenalkan pada sistem stratifikasi yang mengajarkan tahapan-tahapan sederhana, mulai dari pemupukan—jenis dan dosis pupuk—hingga pencatatan hasil panen. Pendekatan ini dirancang sebagai penerapan Good Agricultural Practices (GAP) agar sistem budidaya kelapa sawit tetap efisien, ramah lingkungan, dan tidak menurunkan produktivitas secara signifikan.

Lebih jauh, sertifikasi tidak hanya menyoroti aspek teknis budidaya, tetapi juga dimensi lingkungan dan sosial. Perlindungan kualitas lingkungan menjadi perhatian utama, termasuk memastikan tidak adanya praktik yang merusak ekosistem. Dari sisi sosial, sertifikasi juga menegaskan larangan keterlibatan pekerja anak dalam aktivitas kebun, baik di lapangan maupun di area kerja lainnya.

BACA JUGA: Bentrok KSO Sawit Bengkalis, Kapolda Riau Dorong Pokja dan Pengamanan Resmi untuk Redam Konflik

Eka menilai, dalam keseharian, banyak prinsip sertifikasi sebenarnya sudah sejalan dengan praktik petani tradisional yang menjaga alam secara alami. Tantangannya adalah bagaimana pengetahuan tersebut diperkuat, didokumentasikan, dan diarahkan agar memenuhi standar keberlanjutan yang diakui.

“Pendekatan ini bukan lagi soal larangan-larangan semata, seperti ‘jangan ini, jangan itu’. Yang lebih penting adalah bagaimana upaya budidaya sawit bisa diarahkan untuk memulihkan kembali fungsi ekosistem,” katanya.

Menurutnya, dengan pendekatan yang lebih mendalam dan partisipatif, sertifikasi sawit berkelanjutan dapat menjadi alat pemberdayaan bagi petani kecil. Tidak hanya untuk menjaga produksi dan pendapatan, tetapi juga untuk memastikan kebun sawit rakyat berkontribusi positif terhadap lingkungan dan keberlanjutan jangka panjang. (T2)


InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com