Memasuki 2026, Sawit Malaysia Tetap Optimisme dengan Hati-hati, Harga Tetap Kuat Namun Risiko Membayangi

oleh -2.056 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Ilustrasi Crude Palm Oil (CPO).

InfoSAWIT, KUALA LUMPUR — Industri kelapa sawit Malaysia diproyeksikan memasuki 2026 dengan fondasi yang lebih kokoh, meski masih dibayangi volatilitas harga, perubahan aturan perdagangan global, serta risiko iklim yang dapat menguji ketahanan sektor tersebut kapan saja.

Direktur Jenderal Malaysian Palm Oil Board (MPOB), Datuk Dr Ahmad Parveez Ghulam Kadir, mengatakan pihaknya memandang prospek produksi tahun depan secara berhati-hati namun tetap optimistis. Menurutnya, faktor cuaca masih menjadi variabel penting yang berpotensi memengaruhi kinerja produksi.

Selain itu, aktivitas peremajaan (replanting) kebun sawit juga diperkirakan dapat menahan pertumbuhan produksi dalam jangka pendek, mengingat tanaman baru belum mencapai tingkat produktivitas optimal. Namun, langkah tersebut dinilai krusial demi menjaga kesehatan dan keberlanjutan industri dalam jangka panjang.

BACA JUGA: Harga Minyak Sawit, Senin (29/12) Tertekan Stok Tinggi, Reli Jangka Pendek Terancam

“Secara keseluruhan, MPOB menilai industri sawit Malaysia berada pada struktur yang solid. Program peremajaan dan peningkatan produktivitas diharapkan memperkuat prospek produksi dalam jangka menengah,” ujar Ahmad Parveez dilansir InfoSAWIT dari Business Times, Selasa (30/12/2025).

 

Harga Kokoh, Volatilitas Masih Tinggi

Dari sisi harga, Ahmad Parveez memperkirakan harga minyak sawit mentah (CPO) pada 2026 akan tetap berada pada level kuat, meski dengan volatilitas yang cukup tinggi. Dukungan utama datang dari permintaan global yang stabil, termasuk dari sektor biofuel.

Namun dalam jangka pendek, pergerakan harga CPO diperkirakan akan sangat dipengaruhi fluktuasi harga minyak mentah dunia serta dinamika kebijakan di pasar-pasar utama.

BACA JUGA: Menakar Daya Rusak Banjir Sumatra dan Jalan Panjang Mitigasi yang Terabaikan

Pandangan serupa disampaikan ekonom sekaligus pakar perkebunan, Dr Mohd Zulkufli Zakaria. Ia memproyeksikan harga CPO pada 2026 berada di kisaran RM3.800 hingga RM4.500 per ton. Sementara untuk 2025 yang hampir berakhir, harga diperkirakan bergerak di rentang RM3.800 hingga RM4.300 per ton, seiring pertumbuhan konsumsi global yang tetap solid.

Sejumlah proyeksi internasional, termasuk dari United States Foreign Agricultural Service, memperkirakan konsumsi minyak sawit global akan tumbuh sekitar 2,5 hingga 3,0 persen.

Mohd Zulkufli menilai permintaan yang berkelanjutan serta peningkatan penggunaan biofuel akan terus menopang harga, ditambah dengan dinamika pasokan di negara-negara produsen utama. Indonesia, misalnya, semakin banyak menyerap produksi sawit untuk kebutuhan domestik, dengan estimasi penggunaan mencapai 13–14 juta ton, naik signifikan dibanding sekitar 12 juta ton pada 2014.

BACA JUGA: PPKS Introduksi 4.500 Serangga Penyerbuk Sawit

Di sisi lain, ekspansi produksi diesel terbarukan di negara seperti Brasil dan Amerika Serikat—yang banyak menggunakan minyak kedelai—berpotensi mendorong permintaan minyak sawit sebagai substitusi.

“Nilai tukar ringgit yang lebih lemah juga dapat mendukung permintaan sawit,” ujarnya. “Selain itu, cuaca ekstrem yang berdampak pada produksi minyak kedelai global bisa memicu lonjakan permintaan minyak sawit.” (T2)

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com