InfoSAWIT, JAKARTA — Komitmen pengembangan sawit berkelanjutan kembali ditegaskan Asian Agri melalui program Certified Palm Oil Premium Sharing Programme 2024. Melalui skema ini, perusahaan menyalurkan sekitar Rp5,5 miliar dana premi sertifikasi kepada petani sawit mitra di Riau dan Jambi.
Apresiasi kepada petani dan koperasi digelar di Bukittinggi, Sumatera Barat, akhir Desember 2025. Program tersebut menjangkau 76 Koperasi Unit Desa (KUD) dan memberikan manfaat langsung kepada lebih dari 30.000 petani sawit skema plasma dan kemitraan.
Head of Partnership Asian Agri, Rudy Rismanto, menegaskan bahwa sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) menjadi kunci utama dalam memperluas akses pasar minyak sawit petani kecil.
BACA JUGA: Asian Agri, Apical, dan Kao Pastikan Perkembangan Program SMILE di Rantauprapat
“Melalui sertifikasi RSPO, minyak sawit yang diproduksi petani mitra kami dapat diterima di pasar global, termasuk Eropa yang mensyaratkan produk berkelanjutan,” ujar Rudy dilansir InfoSAWIT dari Media OutReach Newswire, Kamis (1/1/2026). “Premi yang diterima kemudian diinvestasikan kembali untuk meningkatkan produktivitas, memperbaiki infrastruktur, memperkuat fasilitas KUD, serta mendukung sumber pendapatan alternatif bagi petani.”
Menurutnya, pendekatan keberlanjutan Asian Agri tidak hanya menitikberatkan aspek lingkungan, tetapi juga dampak sosial dan ekonomi. “Kami ingin praktik berkelanjutan benar-benar diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan petani. Inilah filosofi kami: keberlanjutan dan kemakmuran harus tumbuh bersama,” katanya.
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh koperasi. Subiyono, Ketua KUD Karya Bersama, menyebut dana premi membantu memperkuat operasional koperasi dan petani. “Pada 2026, kami berencana mengalokasikan dana untuk perbaikan dan pemeliharaan jalan kebun sebagai akses utama pengangkutan tandan buah segar ke pabrik,” ujarnya.
BACA JUGA: Apical & Asian Agri Perkuat Komitmen Keberlanjutan, Optimalkan Pengurangan Emisi Karbon
KUD Karya Bersama juga tengah menjalankan program peremajaan kebun bersama Asian Agri. Tanaman sawit hasil replanting yang kini berusia 49 bulan telah mencapai produktivitas rata-rata dua ton per hektare per bulan.
Sementara itu, Waluyo, Ketua KUD Makmur Rezeki, menuturkan bahwa dana premi dimanfaatkan untuk penguatan kelembagaan dan praktik ramah lingkungan. “Mulai dari perbaikan gudang pupuk, peningkatan jalan kebun, penyediaan alat pelindung diri, hingga pemasangan rumah burung hantu sebagai pengendalian hama alami,” jelasnya.
Melalui program ini, Asian Agri—bagian dari Royal Golden Eagle—menegaskan investasi jangka panjang pada ketahanan petani dan koperasi, guna memastikan pembangunan sawit berkelanjutan memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan secara berkelanjutan. (T2)




















