Smart SISKA 4.0 Bidik Efisiensi 50%, Teknologi AI dan IoT Siap Ubah Integrasi Sawit-Sapi

oleh -172 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/ Pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Dr. drh. Santoso.

InfoSAWIT, JAKARTA – Perubahan iklim dan tingginya suhu tropis di Indonesia menjadi tantangan serius bagi pengembangan integrasi sawit-sapi (SISKA). Rentang suhu harian yang dapat mencapai 27°C hingga 34°C memicu stres panas (heat stress) pada ternak, yang berdampak langsung pada penurunan produktivitas dan efisiensi usaha peternakan.

Pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Dr. drh. Santoso, memperkenalkan konsep Smart SISKA 4.0, sebuah inovasi peternakan presisi berbasis teknologi digital yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas sapi di ekosistem perkebunan sawit, sekaligus memperkuat adaptasi terhadap iklim tropis yang semakin ekstrem.

Menurut Santoso, stres panas menjadi salah satu faktor pembatas utama dalam sistem peternakan tropis. Kondisi ini meningkatkan suhu tubuh ternak, mempercepat frekuensi respirasi, dan menurunkan konsumsi pakan. Dampaknya, produktivitas daging maupun susu dapat merosot 5–20%, sementara tingkat fertilitas ternak berpotensi turun hingga 30%.

BACA JUGA: 33% Lebih Cerna, Produk ini Jadi Inovasi Pakan Sawit untuk Dongkrak Produktivitas Sapi

“Heat stress bukan sekadar persoalan kenyamanan ternak, tetapi berdampak langsung pada produktivitas, reproduksi, dan efisiensi ekonomi usaha peternakan. Karena itu, pendekatan teknologi presisi menjadi kebutuhan mendesak,” ujar Santoso dalam keterangan resmi GAPENSISKA diterima InfoSAWIT, Minggu (10/5/2026).

Smart SISKA 4.0 hadir dengan mengintegrasikan Internet of Things (IoT), Big Data Analytics, Artificial Intelligence (AI), serta teknologi genetika dalam satu ekosistem manajemen ternak modern.

Salah satu pilar utamanya adalah penggunaan sensor wearable dan GPS tracking untuk memantau parameter vital ternak secara real-time, mulai dari suhu tubuh dengan sensitivitas hingga +0,2°C, detak jantung, hingga pola aktivitas sapi di areal perkebunan yang luas. Teknologi ini memungkinkan peternak mendeteksi perubahan kondisi fisiologis ternak lebih dini sebelum menimbulkan kerugian produksi.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw Pada Jumat (8/5), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Nyaris Tetap

Selain itu, BRIN juga mengembangkan platform Digitalisasi Genetic Feed Performance (GFP), yakni sistem yang mengintegrasikan data konsumsi pakan, laju pertumbuhan, dan marker genetik guna mempercepat seleksi bibit sapi unggul yang lebih adaptif terhadap iklim tropis.

Inovasi lainnya adalah pemanfaatan AI Body Condition Score, yang memungkinkan penilaian kondisi tubuh ternak melalui citra digital. Melalui aplikasi Sapintara, teknologi ini mampu memprediksi bobot badan, estimasi karkas, hingga kisaran harga jual sapi secara lebih cepat dan akurat.

Dalam sistem ini, pemantauan Temperature-Humidity Index (THI) menjadi komponen vital. Saat nilai THI melewati angka 72, ternak mulai mengalami stres panas yang ditandai penurunan konsumsi pakan dan kenaikan suhu tubuh. Pada level 79–88, stres masuk kategori sedang dengan risiko penurunan produksi susu maupun daging sebesar 10–25%. Jika THI melampaui 88, ternak masuk fase stres berat dengan risiko mortalitas meningkat dan fertilitas turun drastis lebih dari 30%.

BACA JUGA: PalmCo Optimalkan Limbah Sawit Jadi Energi, Tekan Konsumsi Solar Hingga Jutaan Liter

“Deteksi dini kondisi stres panas memungkinkan tindakan mitigasi dilakukan lebih cepat, sehingga kerugian ekonomi akibat turunnya konsumsi pakan dan performa ternak dapat ditekan secara signifikan,” jelas Santoso.

Tidak hanya pada sisi digitalisasi, BRIN juga mendorong riset pemuliaan ternak berbasis genetika. Melalui pendekatan genome editing (CRISPR-Cas9), peneliti menargetkan identifikasi marker genetik adaptasi panas, termasuk gen “slick”, yang diketahui mampu meningkatkan toleransi ternak terhadap suhu tinggi.

Pengembangan genetik ini diarahkan untuk menghasilkan galur sapi potong Double Muscle serta sapi perah dataran rendah yang tetap produktif di lingkungan tropis Indonesia.

BACA JUGA: Pelatihan GAP CPOPC Tingkatkan Kompetensi Petani Sawit, Dorong Produktivitas dan Keberlanjutan

Implementasi Smart SISKA 4.0 diproyeksikan mampu meningkatkan efisiensi tenaga kerja sebesar 30–50%, sekaligus menekan emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan sekitar 10–20% melalui efisiensi pakan, perbaikan produktivitas, dan sistem budidaya yang lebih presisi.

Dengan integrasi teknologi digital, kecerdasan buatan, dan inovasi genetika, Smart SISKA 4.0 dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat daya saing industri peternakan nasional berbasis perkebunan sawit yang modern, efisien, dan berkelanjutan. (T2)

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com