Tumpangsari Pisang di Kebun Sawit Bisa Kurangi Produksi, Praktisi Ingatkan Pengelolaan Anakan

oleh -2.162 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/Ilustrasi tumpang sari sawit dengan pisang.

InfoSAWIT, MEDAN – Praktik tumpangsari pisang di areal perkebunan kelapa sawit masih menjadi pilihan sebagian petani untuk menambah pendapatan selama masa tanaman belum menghasilkan maupun saat produktivitas kebun belum optimal. Namun, pengelolaannya harus dilakukan secara cermat agar tidak mengganggu pertumbuhan dan produksi kelapa sawit.

Praktisi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Djan Muhayat, mengingatkan bahwa tanaman pisang yang ditanam di sela-sela kelapa sawit tidak menjadi masalah selama populasinya terkendali dan tidak menimbulkan persaingan berlebihan terhadap kebutuhan cahaya matahari tanaman utama.

Dilansir InfoSAWIT dari PPKS, Selasa (23/6/2026), Djan menjelaskan bahwa petani tetap dapat mempertahankan sistem tumpangsari apabila kondisi lahan dan kebutuhan ekonomi mengharuskannya. Namun, terdapat konsekuensi berupa potensi kehilangan produksi tandan buah segar (TBS) sawit dibandingkan kebun yang dikelola dengan populasi ideal tanpa gangguan naungan tambahan.

BACA JUGA: Ketika Sawit dan Sapi Mencari Titik Temu

Menurutnya, jenis pisang yang dipilih juga menentukan tingkat risiko terhadap kebun sawit. Pisang kepok dinilai memerlukan perhatian lebih karena memiliki banyak anakan yang dapat berkembang cepat dan mendominasi ruang tumbuh.

“Jika anakan pisang dibiarkan terlalu banyak, tanaman sawit berisiko kehilangan akses sinar matahari yang merupakan faktor utama dalam proses fotosintesis dan pembentukan produksi,” ujarnya.

Sebaliknya, varietas seperti pisang barangan atau pisang raja dianggap lebih aman karena jumlah anakannya relatif sedikit dan cenderung berhenti berkembang setelah beberapa kali berbuah.

BACA JUGA: Membangun Ekosistem Pendidikan Berkualitas melalui Bumitama Berdaya

 

Cahaya Matahari Jadi Kunci Produktivitas Sawit

Djan menegaskan bahwa kelapa sawit merupakan tanaman yang sangat membutuhkan intensitas cahaya matahari optimal. Karena itu, keberadaan tanaman sela yang terlalu rapat dapat menurunkan produktivitas kebun dalam jangka panjang.

Ia mencontohkan, kebun dengan populasi sekitar 251 pohon per hektare yang dikombinasikan dengan tumpangsari berpotensi menghasilkan produksi maksimal sekitar 25 ton per hektare. Sementara pada populasi yang lebih ideal dan ruang tumbuh yang lebih baik, produksi dapat menembus lebih dari 30 ton per hektare.

Selain meningkatkan produktivitas, jarak tanam yang lebih longgar juga memungkinkan tanaman menghasilkan tandan dengan ukuran lebih besar karena memperoleh penyinaran yang lebih merata.

BACA JUGA: STAA Gabung RSPO, Masuk Pasar Sawit Berkelanjutan

“Semakin optimal tanaman mendapatkan sinar matahari, maka pertumbuhan dan pembentukan tandan juga akan lebih baik,” jelasnya.

 

Efisiensi Pupuk Jadi Salah Satu Keuntungan

Meski berpotensi menekan produksi, sistem tanam dengan populasi lebih rendah dan pengaturan ruang yang baik dapat memberikan keuntungan berupa efisiensi penggunaan pupuk.

Djan menyebut kebutuhan pupuk akan mengikuti jumlah tanaman yang dipelihara. Dengan populasi lebih sedikit, biaya pemupukan juga dapat ditekan sehingga menjadi pertimbangan tersendiri bagi petani dalam menentukan pola pengelolaan kebun.

BACA JUGA: Ketua SPKS Aceh Harap Dirjenbun Perpanjang Pendaftaran Beasiswa SDM Sawit 2026

Karena itu, ia menyarankan petani yang ingin menerapkan tumpangsari tetap memperhatikan jenis tanaman pendamping yang digunakan serta rutin mengendalikan jumlah anakan pisang, khususnya pada varietas yang memiliki kemampuan berkembang biak tinggi.

“Silakan melakukan tumpangsari, tetapi pilih varietas pisang yang anakannya tidak terlalu banyak agar tidak mengganggu pertumbuhan kelapa sawit,” pungkasnya. (T2)


InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com