Jika seorang petani memiliki empat hektare kebun, misalnya, mungkin membutuhkan tenaga tambahan untuk panen. Dari situ ada lapangan kerja yang tercipta. Hasil panen kemudian diangkut ke pabrik menggunakan jasa transportasi. Pendapatan yang diperoleh dibelanjakan kembali di pasar, warung, dan usaha-usaha lokal.
Rantai ekonomi itu terus bergerak. Namun, kata Bandung, kajian yang memetakan secara rinci dampak aktivitas tersebut terhadap kehidupan masyarakat lokal masih perlu diperbanyak dan dipublikasikan secara lebih luas.
Karena itulah ia sering mempertanyakan mengapa sawit selalu dinilai dari sisi yang sempit.
“Kenapa yang dihitung selalu luas lahannya? Kenapa tidak dihitung berapa banyak anak yang bisa sekolah? Berapa banyak keluarga yang hidup bergantung dari sawit? Berapa banyak desa yang ekonominya bergerak?” ujarnya.
Bagi Bandung, persoalan lain yang tak kalah serius adalah banjir informasi yang membentuk persepsi publik tentang sawit. (*)




















