InfoSAWIT, JAKARTA — Zulham S. Koto masih ingat betul detik pertama ia berkenalan dengan PT Agrinas Palma Nusantara (Persero). “Tanggal 10 November 2024, pukul 11.03 pagi,” ucapnya, tersenyum mengenang satu panggilan telepon yang mengubah arah panjang kariernya di dunia perkebunan dan energi.
Peneleponnya bukan orang sembarangan—Komisaris Utama Agrinas, Letjen TNI (Purn.) Wisnoe Prasetja Boedi. “Saya tertarik. Saya ingin belajar sawit,” ujar Zulham menirukan kalimat yang menjadi awal percakapannya dengan perusahaan yang kini mengelola lebih dari 480 ribu hektare lahan sawit di Indonesia.
Bagi banyak orang, angka itu nyaris tak masuk akal. Di tengah raksasa industri sawit global yang butuh puluhan tahun untuk menembus 50 ribu hektare, Agrinas Palma justru melesat dengan kecepatan Gatotkaca—sebuah analogi yang dipilih Zulham sendiri untuk menggambarkan kiprah perusahaan negara ini, “masih bayi, tapi sudah punya otot baja.”
BACA JUGA: Agrinas Palma Bahas Strategi Kelola Aset Titipan Negara Seluas 221 Ribu Hektare
Zulham tak datang sebagai orang baru. Sebelum menjabat sebagai Direktur Bisnis dan Komersial, ia telah duduk di Komite Audit dan Komite Nominasi & Remunerasi Agrinas. Kini, ia memegang mandat untuk membangun sistem, menciptakan produk unggulan, dan memastikan seluruh rantai bisnis Agrinas bergerak efisien—dari kebun, pabrik, hingga pasar ekspor.
Berbekal pengalaman panjang di industri energi dan kelapa sawit, termasuk bersama perusahaan multinasional asal Amerika, Zulham tak butuh waktu lama untuk menangkap visi besar perusahaan: kemandirian energi nasional. Visi ini sejalan dengan ambisi Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong pengembangan biodiesel B100.
“Kalau kita ingin mandiri energi, kita butuh tambahan sekitar enam juta hektare kebun sawit baru,” katanya serius. “Saat ini ada sekitar 17 juta hektare, tapi sebagian besar sudah terserap untuk kebutuhan pangan, farmasi, kosmetik, dan industri lainnya. Kalau kita mau B100, kita perlu kebun tambahan—tanpa mengganggu ekosistem industri sawit yang sudah mapan.”
BACA JUGA: Fakultas Pertanian Unri Gelar Agribusiness Studium Generale Bahas Hilirisasi Sawit
Dari Aset Sengketa ke Aset Negara
Kebun yang dikelola Agrinas bukan sembarang kebun. Sebagian besar berasal dari aset sitaan negara, termasuk eks Duta Palma Group, PKH, hingga Torganda. Aset-aset ini dulunya terbengkalai atau tersangkut kasus hukum. Kini, melalui pengelolaan profesional, Agrinas menyulapnya menjadi mesin produktif yang menyuplai minyak sawit mentah (CPO) ke berbagai industri.
“Bayangkan, membangun 10 ribu hektare saja itu berat sekali bagi perusahaan biasa. Kita mengelola hampir setengah juta hektare dalam waktu kurang dari setahun. Ini luar biasa,” kata Zulham, mengapresiasi kerja kolektif tim.



















