InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Di tengah hiruk-pikuk forum global tentang keberlanjutan, nama Inke van der Sluijs mungkin tak sering muncul di panggung utama. Namun di balik layar, sosok perempuan asal Belanda ini menjadi salah satu arsitek penting dalam mengubah cara dunia memandang minyak sawit.
Sebagai Director of Market Transformation di Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), Inke meniti jalan yang tak mudah—menyatukan kepentingan pasar global dengan realitas petani kecil di lapangan. “Kami ingin memastikan bahwa transformasi keberlanjutan bukan hanya jargon korporasi, tetapi benar-benar dirasakan hingga ke desa,” ujarnya dalam sebuah sesi diskusi di RT2025 Kuala Lumpur awal November 2025 lalu.
Latar belakang akademisnya yang kuat menjadi fondasi kiprah panjangnya di bidang lingkungan. Lulusan PhD Biologi dari Universiteit Leiden, Inke menekuni ekologi hewan dan hubungan antarspesies di alam tropis. Dari dunia riset, ia melangkah ke ranah kebijakan publik, bekerja di sektor minyak nabati dan perikanan berkelanjutan di Belanda. Pengalaman itu membentuk pandangannya tentang pentingnya keseimbangan antara produksi dan konservasi.
BACA JUGA: Kemenperin Buka Ruang Keluhan Publik dalam ISPO Hilir, NGO Didorong Aktif Awali Pengawasan
Ketika bergabung dengan RSPO pada 2013 sebagai Technical Manager Europe, Inke berfokus membangun kepercayaan antara pelaku industri dan pasar Eropa. Kini, sebagai direktur global yang memimpin Market Transformation Division, tanggung jawabnya meluas hingga Asia, termasuk Indonesia dan Malaysia—dua negara produsen sawit terbesar dunia.
Salah satu misi utamanya adalah melibatkan petani kecil independen, yang mengelola sekitar 40 persen dari total lahan sawit global. “Kami bekerja melalui Independent Smallholder Standard, membantu mereka mencapai sertifikasi bertahap. Pasar kemudian memberi insentif melalui pembelian kredit keberlanjutan,” jelasnya. (*)




















